Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa menyampaikan, pembukaan Kongres ke-XVIII Muslimat NU, pada Senin 10 Februari akan dihadiri oleh Presiden RI Prabowo Subiyanto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.
2/10/2025
Kongres XVIII Muslimat NU di Surabaya, Berikut ini Tema dan Link Logo
Sejarah Singkat Muslimat NU
Para ketua umum PP Muslimat NU dari masa ke masa yaitu :
- Ny. Chodijah Dahlan (1946-1947)
- Ny. Yasin (1947-1950)
- Ny. Hj. Mahmudah Mawardi (1950-1979)
- Hj. Asmah Syahruni (1979-1995)
- Hj. Aisyah Hamid Baidlawi (1995-2000)
- Hj. Khofifah Indar Parawansa (2000- sekarang).
Visi dari Muslimat NU adalah untuk mewujudkan masyarakat sejahtera berkualitas, dijiwai ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diridhoi Allah SWT.
Misinya adalah :
- Mewujudkan masyarakat Indonesia khususnya perempuan yang bertaqwa kepada Allah SWT, berkualitas dan mandiri.
- Mewujudkan masyarakat Indonesia khususnya perempuan yang sadar akan hak dan kewajibannya baik sebagai pribadi, warga negara maupun anggota masyarakat sesuai ajaran Islam.
- Melaksanakan tujuan Jam’iyah NU untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur, bermartabat dan diridlai Allah SWT.
- Membumikan Islam Rahmatan Lil’Alamin sebagai gerakan moral Dakwah Muslimat Nahdlatul Ulama.
Arti Lambang :
Arti Warna:
* Hijau melambangkan kesejukan dan kedamaian.
* Tulisan Nahdlatul Ulama berarti : Muslimat NU bagian yang senantiasa meneruskan dan mencerminkan perjuangan ulama.
Jumlah Anggota Muslimat Nahdlatul Ulama diperkirakan mencapai 32 juta yang tersebar di 34 Pimpinan Wilayah (Tingkat Provinsi), 532 Pimpinan Cabang (Tingkat Kabupaten / Kota), 5.222 Pimpinan Anak Cabang (Tingkat Kecamatan), dan 36.000 Pimpinan Ranting (Tingkat Kelurahan / Desa).
- 104 Panti Asuhan
- 10 Asrama Putri
- 10 panti Jompo
- 108 Pusat Layanan Kesehatan (RS/RSB/Klinik)
- 9800 Taman Kanak-Kanak dan Rauddlotul Athfal (TK/RA)
- 350 Taman Pendidikan Al-Qur’an
- 6226 Pendididkan Anak Usia Dini (PAUD)
Layanan Dakwah :
- 000 Majlis Taklim dan Himpunan daiyah Muslimat Nahdlatul Ulama
Layanan Koperasi :
- 1 Induk Koperasi Induk An_Nisa’
- 9 Koperasi Sekunder
- 144 Koperasi Primer yang berbadan Hukum
- 355 Tempat Pelayanan Anggota Koperasi (TPAK)
Layanan Ketrampilan :
- 11 Balai Latihan Kerja (BLK)
Layanan Bimbingan Haji :
- 146 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji
2/06/2025
Sejarah Tradisi Kupatan di Durenan Trenggalek: Dari Wali Songo hingga Mbah Mesir
Tradisi Kupatan merupakan akulturasi budaya yang dilakukan oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Sebelumnya, tradisi Kupatan merupakan sebuah simbol yang dikenal oleh masyarakat Jawa. Tradisi ini pada mulanya diaplikasikan dalam bentuk sesajen, yang bertujuan agar arwah manusia yang meninggal dunia dalam masa bayi bisa tenang. Oleh Sunan Kalijaga, ritual ini kemudian dimasukkan dalam perayaan lebaran ketupat (bodo kupat), sebuah perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal.

Tradisi Kupatan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya sebagai ekspresi untuk melestarikan estafet dakwah yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu dalam menyebarkan Islam di Jawa. Karena tidak mungkin Islam bisa disebarluaskan tanpa menggunakan budaya lokal. Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi Kupatan semakin meluas sampai ke beberapa wilayah di Jawa Timur. Salah satunya di kecamatan Durenan, kabupaten Trenggalek.
Abdul Masyir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Mesir adalah orang pertama yang merintis Kupatan di Durenan. Penyebutan nama Mbah Mesir dikarenakan lidah orang Jawa yang selalu melafalkan huruf-huruf asli (Arab) dengan vokal lidah Jawa, sehingga nama Abdul Masyir berubah menjadi Mbah Mesir.
Setelah Mbah Mesir wafat, tradisi ini tetap dihidupkan oleh tokoh-tokoh penerusnya, antara lain: KH. Imam Mahyin, KH. Ahmad Mu’in dan KH. Abdul Fattah Mu’in. Kini, tradisi kupatan terus dipraktikkan oleh masyarakat Durenan secara alami, tanpa adanya intruksi dari seorang kiai. Saat ini, tradisi Kupatan tidak hanya dipraktikkan oleh masyarakat Durenan, tetapi sudah meluas sampai ke berbagai wilayah di Trenggalek.
Mbah Mesir adalah putra dari Kiai Yahudo, Slorok, Pacitan. Beliau masih keturunan dari Mangkubuwono III, yaitu salah satu guru Pangeran Diponegoro. Mbah Mesir merupakan kiai yang sangat terkenal dan memiliki kedekatan dengan Bupati Trenggalek saat itu. Mbah Mesir juga menjabat sebagai pejabat semacam MUI (baca: naib) Trenggalek, sehingga beliau juga menjadi rujukan berbagai permasalahan agama.
Karena keakrabannya dengan bupati, beliau selalu diundang ke pendopo Trenggalek. Undangan kunjungan tersebut selalu pada hari raya ke dua sampai ke lima. Namun, karena Mbah Mesir selalu mengistikamahkan berpuasa Syawal selama enam hari berturut-turut, beliau tidak memakan makanan yang dihidangkan oleh pihak pendopo.
Pada mulanya, tradisi kupatan akan diselenggarakan pada hari pertama Idul Fitri atas usulan beberapa keluarga Mbah Mesir. Namun, karena Mbah Mesir selalu istikamah dalam puasa Syawal tersebut, maka diputuskan kupatan dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal, setelah Mbah Mesir menyelesaikan puasa sunnahnya.
Setelah Mbah Mesir menyelesaikan puasa sunnah Syawal, biasanya beliau membuat hidangan berupa ketupat dan sayur-sayuran untuk disajikan kepada para santri dan warga sekitar yang bersilaturahim ke rumahnya. Tak jarang sebelum memakan hidangan ketupat dan sayur-sayuran, terlebih dahulu dilakukan doa bersama seperti slametan.
Tradisi ini dilatarbelakangi oleh keresahan Mbah Mesir yang melihat beberapa masyarakat Durenan tidak melakukan puasa sunnah bulan Syawal setelah merayakan hari Raya Idul Fitri. Padahal, puasa bulan Syawal pahalanya sangat banyak dan bisa menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang. Melihat permasalahan ini, Mbah Mesir membuat gagasan baru dengan memadukan budaya dan syariat, yaitu puasa bulan Syawal selama 6 hari dan dilanjutkan dengan slametan kupat (tasyakuran ketupat) di pesantrenya.
Slametaan kupat ini kemudian menyebar ke berbagai masjid dan surau, bahkan sampai ke desa-desa di sekitar Durenan. Di samping itu, menurut beberapa informasi, tradisi tersebut tidak hanya dilakukan oleh kalangan Nahdlatul Ulama’ tetapi juga oleh beberapa kalangan Muhammadiyah, meskipun media perayaannya berbeda.
Ada empat hal yang ingin diajarkan oleh Mbah Mesir kepada masyarakat Durenan dan Trenggalek melalui tradisi ini.
Pertama, kesunahan melaksanakan puasa Syawal, sebagaimana hadis Nabi saw: “Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seolah-olah puasa setahun.”
Kedua, anjuran agar selalu menyambung tali silaturahim dan silaturahmi, sebagaimana hadis Nabi saw: “Siapapun yang ingin diluaskan pintu rizki untuknya dan dipanjangkan ajalnya, hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.”
Ketiga, anjuran agar selalu bersedekah. Masyarakat Durenan meyakini bahwa tradisi kupatan akan mendatangkan berkah bagi kehidupan mereka. Melalui tradisi inilah, mereka memberikan sedekah harta berupa makanan ketupat kepada siapa saja yang bertamu.
Keutamaan sedekah ini berdasarkan hadis Nabi saw: “Tidak ada hari di mana hamba-hamba Allah berada di waktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun, dimana salah satu di antara keduanya berdo’a: ‘Wahai Allah, berikanlah ganti kepada orang yang suka berinfaq’. Dan malaikat lain berdo’a: ‘Wahai Allah, binasakanlah orang yang kikir’.”
Keempat, anjuran agar memuliakan dan menghormati tamu yang datang. Masyarakat Durenan sangat antusias dalam menyambut dan memuliakan para tamu yang datang ke rumahnya saat tradisi kupatan. Siapapun yang bertamu pasti akan dipersilahkan untuk menyantap kupat. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw: “Siapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya.” Wallahua’lam. (*)
Sumber : NU Trenggalek
Logo dan Semboyan “Jwalita Praja Karana”, Berkah Lesbumi NU untuk Kabupaten Trenggalek


















