2/10/2025

Kongres XVIII Muslimat NU di Surabaya, Berikut ini Tema dan Link Logo

Kongres ke-XVIII Muslimat Nahdlatul Ulama (Muslimat NU) akan berlangsung pada Senin – Sabtu (10-15/2/2025) di Gedung Jatim Expo, Surabaya, Jawa Timur.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU, Hj Khofifah Indar Parawansa menyampaikan, pembukaan Kongres ke-XVIII Muslimat NU, pada Senin 10 Februari akan dihadiri oleh Presiden RI Prabowo Subiyanto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.

“Bapak Presiden RI bersama Bapak Wapres terkonfirmasi Insya Allah akan hadir Senin 10 Februari 2025 di Jatim Expo Surabaya. Selain itu juga hadir Rais Aam PBNU, serta Ketua Umum PBNU Kiai Yahya Cholil Staquf juga direncanakan hadir,” ujar Khofifah, dalam konferensi pers usai khotmil Quran, seperti dikutip dari laman muslimatnu.or.id.
Perhelatan akbar ini juga akan dihadiri tak kurang dari 7.000 kader Muslimat NU dari berbagai penjuru Cabang Muslimat NU di Indonesia dan 10 Pimpinan Cabang Istimewa Muslimat NU dari luar negeri.
Dalam Kongres ke-XVIII Muslimat NU ini beberapa menteri akan turut hadir guna memaparkan materi dalam pleno kongres. Sejumlah menteri antara lain Menteri Dikdasmen, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, Badan Gizi Nasional, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Menteri Sosial dan juga Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA).

Tema dan Link Download Logo Kongres XVIII Muslimat NU

Kongres XVIII Muslimat NU yang berlangsung selama 10 Februari hingga 15 Februari 2025 di Surabaya ini mengusung tema “Merawat Tradisi, Menguatkan Kemandirian dan Meneguhkan Peradaban”.
Pada Kongres ke-XVIII Muslimat NU akan meluncurkan tiga program nasional, yakni Mustika Mesem (Muslimat Cantik Mengentaskan Kemiskinan Ekstrem), Mustika Darling (Muslimat Cantik Sadar Lingkungan) dan Mustika Segar (Muslimat Cantik Sehat dan Bugar).
Berikut link download logo dengan format PNG (tanpa background), gelaran Kongres ke-XVIII Muslimat NU di tahun 2025, unduh logo di sini.
Share:

Sejarah Singkat Muslimat NU

Muslimat Nahdlatul Ulama adalah organisasi kemasyarakatan yang bersifat sosial keagamaan dan merupakan salah satu Badan Otonom dari Jam’iyah Nahdlatul Ulama. Didirikan pada tanggal 26 Rabiul Akhir bertepatan dengan tanggal 29 Maret 1946 di Purwokerto. Hingga kini dipimpin oleh Ketua Umum Hj. Khofifah Indar Parawansa, yang sekaligus juga Gubernur Provinsi Jawa Timur.
Muktamar NU ke-13 di Menes, Banten, 1938 menjadi momen awal gagasan mendirikan organisasi perempuan NU itu muncul. Dua tokoh, yakni Ny R Djuaesih dan Ny Siti Sarah tampil sebagai pembicara di forum tersebut mewakili jamaah perempuan. Ny R Djuaesih secara tegas dan lantang menyampaikan urgensi kebangkitan perempuan dalam kancah organisasi sebagaimana kaum laki-laki. Ia menjadi prempuan pertama yang naik mimbar dalam forum resmi organisasi NU.
Secara internal, di NU ketika itu juga belum tersedia ruang yang luas bagi jamaah perempuan untuk bersuara dan berpartisipasi dalam penentuan kebijakan. Ide itu pun disambut dengan perdebatan sengit di kalangan peserta Muktamar. Setahun kemudian, tepatnya pada Muktamar NU ke-14 di Magelang, saat Ny Djuaesih mendapat tugas memimpin rapat khusus wanita oleh RH Muchtar (utusan NU Banyumas) yang waktu itu dihadiri perwakilan dari daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat, seperti Muntilan, Sukoharjo, Kroya, Wonosobo, Surakarta, Magelang, Parakan, Purworejo, dan Bandung. Forum menghasilkan rumusan pentingnya peranan wanita NU dalam organisasi NU, masyarakat, pendidikan, dan dakwah.
Akhirnya pada tanggal 29 Maret 1946, bertepatan tanggal 26 Rabiul Akhir 1365 H, keinginan jamaah wanita NU untuk berorganisasi diterima secara bulat oleh para utusan Muktamar NU ke-16 di Purwokerto. Hasilnya, dibentuklah lembaga organik bidang wanita dengan nama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM) yang kelak lebih populer disebut Muslimat NU. Hari inilah yang di kemudian hari diperingati sebagai hari lahir Muslimat NU sampai sekarang. Pendirian lembaga ini dinilai relevan dengan kebutuhan sejarah. Pandangan ini hanya dimiliki sebagian kecil ulama NU, di antaranya KH Muhammad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Saifuddin Zuhri.
Atas dasar prestasi dan kiprahnya yang demikian, Muktamar NU ke-19 di Palembang pada tahun 1952, Muslimat NU memperoleh hak otonomi. Muktamirin sepakat memberikan keleluasaan bagi Muslimat NU dalam mengatur rumah tangganya sendiri serta memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya di medan pengabdian. Sejak menjadi badan otonom NU, Muslimat lebih bebas bergerak dalam memperjuangkan hak-hak wanita dan cita-cita nasional secara mandiri. Dalam perjalanannya, Muslimat NU bergabung bersama elemen perjuangan wanita lainnya, utamanya yang tergabung dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani), sebuah federasi organisasi wanita tingkat nasional. Di Kowani, Muslimat NU menduduki posisi penting.

Para ketua umum PP Muslimat NU dari masa ke masa yaitu :

  1. Ny. Chodijah Dahlan (1946-1947)
  2. Ny. Yasin (1947-1950)
  3. Ny. Hj. Mahmudah Mawardi (1950-1979)
  4. Hj. Asmah Syahruni (1979-1995)
  5. Hj. Aisyah Hamid Baidlawi (1995-2000)
  6. Hj. Khofifah Indar Parawansa (2000- sekarang).

Visi dari Muslimat NU adalah untuk mewujudkan masyarakat sejahtera berkualitas, dijiwai ajaran Ahlusunnah Wal Jama’ah dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diridhoi Allah SWT.

Misinya adalah :

  1. Mewujudkan masyarakat Indonesia khususnya perempuan yang bertaqwa kepada Allah SWT, berkualitas dan mandiri.
  2. Mewujudkan masyarakat Indonesia khususnya perempuan yang sadar akan hak dan kewajibannya baik sebagai pribadi, warga negara maupun anggota masyarakat sesuai ajaran Islam.
  3. Melaksanakan tujuan Jam’iyah NU untuk mewujudkan masyarakat adil, makmur, bermartabat dan diridlai Allah SWT.
  4. Membumikan Islam Rahmatan Lil’Alamin sebagai gerakan moral Dakwah Muslimat Nahdlatul Ulama.

Arti Lambang :

1. Bola dunia terletak ditengah-tengah berarti tempat kediaman untuk mengabdi dan beramal guna mencapai kebahagian dunia dan akhirat.
2. Tali yang mengikat berarti agama Islam sebagai pengikat kehidupan manusia, untuk mengingatkan agar selalu tolong menolong terhadap sesama dan meningkatkan taqwa kepada Allah SWT.
3. Lima buah bintang terletak diatas, yang  terbesar dipuncak berarti : Sunnah Rasulullah SAW yang diikuti dengan setia oleh empat sahabat besar : Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali Radhiyallah’anhum.
Arti seluruh bintang yang berjumlah sembilan buah yaitu : Walisongo atau Wali Sembilan yang berarti dalam berdakwah meneladani tata cara Wali Songo, yakni dengan cara damai dan bijaksana tanpa kekerasan.

Arti Warna:

* Putih melambangkan ketulusan dan keihlasan.
* Hijau melambangkan kesejukan dan kedamaian.
* Tulisan Nahdlatul Ulama berarti : Muslimat NU bagian yang senantiasa meneruskan dan mencerminkan perjuangan ulama.
Program dan Kegiatan
Jumlah Anggota Muslimat Nahdlatul  Ulama diperkirakan mencapai 32 juta yang tersebar di 34 Pimpinan Wilayah (Tingkat Provinsi), 532 Pimpinan Cabang (Tingkat Kabupaten / Kota), 5.222  Pimpinan Anak Cabang (Tingkat Kecamatan), dan 36.000 Pimpinan Ranting (Tingkat Kelurahan / Desa).
Untuk Layanan Sosial dan Kesehatan, Muslimat Nahdlatul  Ulama Memiliki :
  • 104 Panti Asuhan
  • 10 Asrama Putri
  • 10 panti Jompo
  • 108 Pusat Layanan Kesehatan (RS/RSB/Klinik)


Layanan Pendidikan :
  • 9800 Taman Kanak-Kanak dan Rauddlotul Athfal (TK/RA)
  • 350 Taman Pendidikan Al-Qur’an
  • 6226 Pendididkan Anak Usia Dini (PAUD)


Layanan Dakwah :

  • 000 Majlis Taklim dan Himpunan daiyah Muslimat Nahdlatul Ulama


Layanan Koperasi :

  • 1 Induk Koperasi Induk An_Nisa’
  • 9 Koperasi Sekunder
  • 144 Koperasi Primer yang berbadan Hukum
  • 355 Tempat Pelayanan Anggota Koperasi (TPAK)


Layanan Ketrampilan :

  • 11 Balai Latihan Kerja (BLK)


Layanan Bimbingan Haji :

  • 146 Kelompok Bimbingan Ibadah Haji


Sumber : MUSLIMAT NU
.
Share:

2/06/2025

Sejarah Tradisi Kupatan di Durenan Trenggalek: Dari Wali Songo hingga Mbah Mesir

Tradisi Kupatan merupakan akulturasi budaya yang dilakukan oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Sebelumnya, tradisi Kupatan merupakan sebuah simbol yang dikenal oleh masyarakat Jawa. Tradisi ini pada mulanya diaplikasikan dalam bentuk sesajen, yang bertujuan agar arwah manusia yang meninggal dunia dalam masa bayi bisa tenang. Oleh Sunan Kalijaga, ritual ini kemudian dimasukkan dalam perayaan lebaran ketupat (bodo kupat), sebuah perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal.

lebaran ketupat 8 syawal durenan trenggalek dari wali songo hingga kh abdul masyir keturunan mbah yahudo pacitan

Tradisi Kupatan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya sebagai ekspresi untuk melestarikan estafet dakwah yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu dalam menyebarkan Islam di Jawa. Karena tidak mungkin Islam bisa disebarluaskan tanpa menggunakan budaya lokal. Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi Kupatan semakin meluas sampai ke beberapa wilayah di Jawa Timur. Salah satunya di kecamatan Durenan, kabupaten Trenggalek.

Abdul Masyir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Mesir adalah orang pertama yang merintis Kupatan di Durenan. Penyebutan nama Mbah Mesir dikarenakan lidah orang Jawa yang selalu melafalkan huruf-huruf asli (Arab) dengan vokal lidah Jawa, sehingga nama Abdul Masyir berubah menjadi Mbah Mesir.

Setelah Mbah Mesir wafat, tradisi ini tetap dihidupkan oleh tokoh-tokoh penerusnya, antara lain: KH. Imam Mahyin, KH. Ahmad Mu’in dan KH. Abdul Fattah Mu’in. Kini, tradisi kupatan terus dipraktikkan oleh masyarakat Durenan secara alami, tanpa adanya intruksi dari seorang kiai. Saat ini, tradisi Kupatan tidak hanya dipraktikkan oleh masyarakat Durenan, tetapi sudah meluas sampai ke berbagai wilayah di Trenggalek.

Mbah Mesir adalah putra dari Kiai Yahudo, Slorok, Pacitan. Beliau masih keturunan dari Mangkubuwono III, yaitu salah satu guru Pangeran Diponegoro. Mbah Mesir merupakan kiai yang sangat terkenal dan memiliki kedekatan dengan Bupati Trenggalek saat itu. Mbah Mesir juga menjabat sebagai pejabat semacam MUI (baca: naib) Trenggalek, sehingga beliau juga menjadi rujukan berbagai permasalahan agama.

Karena keakrabannya dengan bupati, beliau selalu diundang ke pendopo Trenggalek. Undangan kunjungan tersebut selalu pada hari raya ke dua sampai ke lima. Namun, karena Mbah Mesir selalu mengistikamahkan berpuasa Syawal selama enam hari berturut-turut, beliau tidak memakan makanan yang dihidangkan oleh pihak pendopo.

Pada mulanya, tradisi kupatan akan diselenggarakan pada hari pertama Idul Fitri atas usulan beberapa keluarga Mbah Mesir. Namun, karena Mbah Mesir selalu istikamah dalam puasa Syawal tersebut, maka diputuskan kupatan dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal, setelah Mbah Mesir menyelesaikan puasa sunnahnya.

Setelah Mbah Mesir menyelesaikan puasa sunnah Syawal, biasanya beliau membuat hidangan berupa ketupat dan sayur-sayuran untuk disajikan kepada para santri dan warga sekitar yang bersilaturahim ke rumahnya. Tak jarang sebelum memakan hidangan ketupat dan sayur-sayuran, terlebih dahulu dilakukan doa bersama seperti slametan.

Tradisi ini dilatarbelakangi oleh keresahan Mbah Mesir yang melihat beberapa masyarakat Durenan tidak melakukan puasa sunnah bulan Syawal setelah merayakan hari Raya Idul Fitri. Padahal, puasa bulan Syawal pahalanya sangat banyak dan bisa menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang. Melihat permasalahan ini, Mbah Mesir membuat gagasan baru dengan memadukan budaya dan syariat, yaitu puasa bulan Syawal selama 6 hari dan dilanjutkan dengan slametan kupat (tasyakuran ketupat) di pesantrenya.

Slametaan kupat ini kemudian menyebar ke berbagai masjid dan surau, bahkan sampai ke desa-desa di sekitar Durenan. Di samping itu, menurut beberapa informasi, tradisi tersebut tidak hanya dilakukan oleh kalangan Nahdlatul Ulama’ tetapi juga oleh beberapa kalangan Muhammadiyah, meskipun media perayaannya berbeda.

Ada empat hal yang ingin diajarkan oleh Mbah Mesir kepada masyarakat Durenan dan Trenggalek melalui tradisi ini.

Pertama, kesunahan melaksanakan puasa Syawal, sebagaimana hadis Nabi saw: “Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seolah-olah puasa setahun.

Kedua, anjuran agar selalu menyambung tali silaturahim dan silaturahmi, sebagaimana hadis Nabi saw: “Siapapun yang ingin diluaskan pintu rizki untuknya dan dipanjangkan ajalnya, hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.”

Ketiga, anjuran agar selalu bersedekah. Masyarakat Durenan meyakini bahwa tradisi kupatan akan mendatangkan berkah bagi kehidupan mereka. Melalui tradisi inilah, mereka memberikan sedekah harta berupa makanan ketupat kepada siapa saja yang bertamu.

Keutamaan sedekah ini berdasarkan hadis Nabi saw: “Tidak ada hari di mana hamba-hamba Allah berada di waktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun, dimana salah satu di antara keduanya berdo’a: Wahai Allah, berikanlah ganti kepada orang yang suka berinfaq. Dan malaikat lain berdo’a: ‘Wahai Allah, binasakanlah orang yang kikir’.

Keempat, anjuran agar memuliakan dan menghormati tamu yang datang. Masyarakat Durenan sangat antusias dalam menyambut dan memuliakan para tamu yang datang ke rumahnya saat tradisi kupatan. Siapapun yang bertamu pasti akan dipersilahkan untuk menyantap kupat. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw: Siapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Wallahua’lam. (*)

Sumber : NU Trenggalek

Share:

Logo dan Semboyan “Jwalita Praja Karana”, Berkah Lesbumi NU untuk Kabupaten Trenggalek

Jika kita mencermati lambang atau logo Kabupaten Trenggalek yang berbentuk perisai bersudut lima, di sana terdapat selendang merah yang bertuliskan “Jwalita Praja Karana”. Tulisan tersebut merupakan semboyan atau moto daerah, yang secara singkat diartikan: “cemerlang karena rakyat”.

Dalam Kamus Indonesia-Jawa Kuno (Depdikbud, 1992), kata Jwalita berkaitan dengan kata sinarkilaukilatcahayacemerlang, dan bercahaya sangat terang. Kata praja bermakna negarakerajaan, atau pemerintahan. Sedangkan kata karana berarti lantaran atau sebab. Dengan demikian, semboyan Jwalita Praja Karana dapat dimaknai bahwa kebesaran dan kemegahan Kabupaten Trenggalek merupakan perwujudan dari semangat persatuan, gotong royong, serta dukungan dari rakyatnya. 

Dijadikannya petitih Jwalita Praja Karana sebagai semboyan daerah tidak terjadi secara ujug-ujug. Ada proses yang cukup panjang hingga ia ditetapkan sebagai semboyan resmi Kabupaten Trenggalek.

Diceritakan Hamid Wilis dalam bukunya yang berjudul Selayang Pandang Sejarah Trenggalek, pada tahun 1963 Menteri Dalam Negeri RI mengeluarkan instruksi agar Daerah-Daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, membuat lambang daerah yang mencantumkan bunyi semboyan atau nama daerah masing-masing. Atas dasar instruksi tersebut, Bupati Trenggalek, dengan persetujuan DPRD, membentuk panitia pembuatan lambang Daerah.

Panitia lantas membuka sayembara. Sayembara pertama ditujukan untuk memperoleh bunyi semboyan. Semua organisasi kesenian dan kebudayaan yang ada di kabupaten Trenggalek diundang untuk mengikuti kompetisi. Di antaranya Lembaga Kebudayaan Nasional atau LKN (PNI), Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra (PKI), dan Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia atau Lesbumi (NU).

Kompetisi pertama, yakni pembuatan bunyi semboyan, dimenangkan oleh Lesbumi NU. Bunyi slogan “Jwalita Praja Karana” dari Lesbumi NU Trenggalek ditetapkan sebagai pemenang, serta disetujui oleh DPRD.

Hamid Wilis, dalam naskahnya yang lain—yang baru saja diterbitkan oleh GP Ansor Trenggalek—menyebut bahwa slogan “Jwalita Praja Karana” merupakan ide dari salah seorang pengurusnya yang bernama Suprapto. Suprapto saat itu bekerja sebagai guru Basa Jawa di SPG Negeri Trenggalek. Ide dari Suprapto tersebut didaftarkan ke panitia secara kelembagaan—dengan ditandatangi Ketua Lesbumi NU Trenggalek, Kamidjan, dan Sekretaris, Hamid Wilis. 

Setelah bunyi semboyan diperoleh, panitia kemudian membuka sayembara kedua untuk merancang lambang Daerah. Semua organisasi seni-budaya kembali dilibatkan.

Kali ini, Lesbumi NU Trenggalek menugaskan Sumaryo, pengurus yang dianggap piawai dalam seni rupa. Hasil kreasi dari Sumaryo kemudian didaftarkan oleh Lesbumi NU kepada panitia.

Akan tetapi pada sayembara kedua ini, tidak ada satu usulan pun yang memuaskan panitia. Panitia memutuskan untuk membentuk tim perumus. Tugasnya adalah untuk merancang lambang Daerah, dengan mempertimbangkan semua usulan dari peserta yang sudah masuk ke panitia. Sumaryo dilibatkan dalam tim tersebut, mewakili Lesbumi NU.

Akhirnya, tim berhasil membuat lambang Daerah untuk Kabupaten Trenggalek, yang di dalamnya memuat bunyi semboyan “Jwalita Praja Karana”. Bentuk lambang dan bunyi semboyan tersebut—beserta penjelasan atau makna filosofisnya—diserahkan kepada Bupati Trenggalek, kemudian diteruskan ke DPRD. Setelah diplenokan, lambang dan semboyan tersebut ditetapkan sebagai lambang dan semboyan resmi Kabupaten Trenggalek.

Menurut Hamid Wilis, pada tahun 1967, Pemerintah Daerah melakukan sedikit revisi untuk bagian penjelasan atau makna filosofisnya. Sedangkan bentuk logo dan bunyi semboyannya tetap, sebagaimana digunakan hingga saat ini.

Demikianlah, jika kita membaca semboyan “Jwalita Praja Karana” yang tertera dalam logo Kabupaten Trenggalek, seyogyanya kita ingat bahwa keduanya merupakan berkah dari Lesbumi NU untuk Kabupaten Trenggalek.


Sumber : NU Trenggalek
Share:

2/03/2025

Doa-Doa Yang Dianjurkan Pada Bulan Sya'ban


Syekh Abdur Rauf Al-Munawi di kitab Faidhul Qadir bi Syarhi Jami‘is Shaghir menuliskan bahwa salah satu amal baik di bulan Sya'ban yaitu memperbanyak doa.

Berikut beberapa doa yang dianjurkan di bulan Sya'ban:
1. Doa Panjang Umur

اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي رَمَضَانَ

“Ya Allah, Kau berkatilah kepada kami pada bulan Rojab dan Sya’ban dan Kau berkatikanlah kepada kami pada bulan Ramadhan”. Baginda SAW bersabda lagi: “Malam Jumaat adalah mulia dan harinya terang benderang”.
(Musnad Imam Ahmad, Nomor Hadits 2228)

2. Doa Diberikan Rasa Aman

اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيطَانِ، وَرِضوَانٍ مِنَ الرَّحمَنِ

"Ya Allah, masukkanlah kami pada bulan ini dengan rasa aman, keimanan, keselamatan, dan Islam, juga lindungilah kami dari gangguan setan, dan agar kami mendapat rida Allah (Ar-Rahman)."
(HR. Al-Baghawi dalam Mu'jam Ash-Shahabah, sanadnya sahih)

3. Doa Taubat

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ ظُلْمًا كَثِيْرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ، فَاغْفِرْ لِيْ مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

"Ya Allah, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dengan banyak kezaliman. Tidak ada seorang pun yang mampu mengampuni dosa selain Engkau, maka ampunilah aku dengan ampunan dari sisi-Mu. Sungguh! Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”


Sumber : NU Online
Share:

2/02/2025

Bacaan Istighotsah Ijazah dari Mbah K.H. Hasyim Asy'ari


Istighotsah (KH M Hasyim Asy’ari)

نَسْئَلُكَ يَا مَنْ هُوَ اللّٰهُ الَّذِي لَا إِلْٰهَ إِلَّا هُوَKami memohon kepada-Mu wahai Tuhan Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia
الرَّحْمٰنُ الرَّحِــــــيْمُ الْمَــلِكُDzat Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Merajai/Memerintah,
الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْـمُؤْمِنُMahasuci, Maha Memberi Kesejahteraan, Maha Memberi Keamanan,
الْـمُهَيْمِنُ الْعَـــزِيْزُ الْجَبَّـــارُMaha Pemelihara, Memiliki Mutlak Kegagahan, Maha Perkasa,
الْـمُتَــكَبِّرُ الْخَــالِقُ الْبَارِئُMaha Megah, Maha Pencipta, Maha Melepaskan,
الْـمُصَوِّرُ الْغَفَّـــارُ الْقَهَّــــارُMaha Membentuk Rupa (makhluknya), Maha Pengampun, Maha Memaksa,
الْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّـــاحُMaha Pemberi Karunia, Maha Pemberi Rezeki, Maha Pembuka Rahmat,
الْعَـــلِيْمُ الْقَــــابِضُ الْبَاسِطُMaha Mengetahui (Memiliki Ilmu), Maha Menyempitkan (makhluknya), Maha Melapangkan (makhluknya),
الْخَــــافِضُ الرَّافِعُ الْـمُعِـــزُّMaha Merendahkan (makhluknya), Maha Meninggikan (makhluknya), Maha Memuliakan (makhluknya),
الْـمُذِلُّ السَّمِـيْعُ الْبَصِـــيْرُMaha Menghinakan (makhluknya), Maha Mendengar, Maha Melihat,
الْحَكَـمُ الْعَـــــدْلُ اللَّطِيْفُMaha Menetapkan, Mahaadil, Mahalembut,
الْخَبِــــيْرُ الْحَــــــلِيْمُ الْعَـــظِيْمُMaha Mengetahui Rahasia, Maha Penyantun, Mahaagung,
الْغَفُوْرُ الشَّـكُوْرُ الْعَـــــلِيُّMaha Pengampun, Maha Pembalas Budi (Menghargai), Maha Tinggi,
الْكَبِــيْرُ الْحَفِيْظُ الْـمُقِيْتُMaha Besar, Maha Menjaga, Maha Pemberi Kecukupan,
الْحَسِيْبُ الْجَلِيْلُ الْكَرِيْمُMaha Membuat Perhitungan, Mahamulia,
الرَّقِيْبُ الْـمُجِيْبُ الْوَاسِعُMaha Mengawasi, Maha Mengabulkan, Maha Luas,
الْحَــكِيْمُ الْوَدُوْدُ الْـمَجِـيْدُMaha Maka Bijaksana, Maha Pencinta, Maha Mulia,
الْبَــــاعِثُ الشَّـهِيْدُ الْـحَـقُّMaha Membangkitkan, Maha Menyaksikan, Mahabenar,
الْوَكِيْلُ الْقَوِيُّ الْـمَتِــيْنُMaha Memelihara, Mahakuat, Mahakokoh,
الْوَلِيُّ الْحَـــمِيْدُ الْـمُحْـصِيMaha Melindungi, Maha Terpuji, Maha Mengalkulasi,
الْـمُبْدِئُ الْـمُعِيْدُ الْمُحْيِيMaha Memulai, Maha Mengembalikan Kehidupan, Maha Menghidupkan,
الْـمُمِــيْتُ الْــحَيُّ الْقَــيُّوْمُMaha Mematikan, Mahahidup, Mahamandiri,
الْوَاجِدُ الْـمَاجِدُ الْوَاحِدُMaha Penemu, Mahamulia, Maha Tunggal,
الْأَحَـــدُ الصَّمَدُ الْقَــــــادِرُMaha Esa, Maha Dibutuhkan, Maha Menentukan,
الْـمُقْتَدِرُ الْـمُقَدِّمُ الْـمُؤَخِّرُMaha Berkuasa, Maha Mendahulukan, Maha Mengakhirkan,
الْأَوَّلُ الْاٰخِـــرُ الظَّاهِــــــرُMahaawal, Mahaakhir, Mahanyata,
الْبَـاطِنُ الْوَالِي الْـمُتَعَــــالِيMaha Ghaib, Maha Memerintah, Maha Tinggi,
الْــبَرُّ التَّــوَّابُ الْـمُنْتَقِــــــمُMaha Penderma, Maha Penerima Tobat, Maha Penuntut Balas,
الْعَفُوُّ الرَّؤُوْفُ مَالِكُ الْـمُلْكِMaha Pemaaf, Maha Pengasih, Maha Penguasa Kerajaan (Semesta),
ذُوالْجَــلَالِ وَالْإِكْرَامِMaha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan,
الْـمُقْسِــــطُ الْجَـــــامِــــعُMahaadil, Maha Mengumpulkan,
الْغَنِيُّ الْـمُغْنِيْ الْـمَـــانِعُMaha Berkecukupan, Maha Memberi Kekayaan, Maha Mencegah,
الضَّـــآرُّ النَّــــافِعُ النُّوْرُMaha Memberi Derita, Maha Memberi Manfaat, Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya),
الْهَـــادِي الْبَدِيْعُ الْبَاقِيMaha Pemberi Petunjuk, Maha Pencipta, Mahakekal,
الْوَارِثُ الرَّشِيْدُ الصَّبُوْرُMaha Pewaris, Mahapandai, Mahasabar,
الَّذِي لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُMaha Penyayang yang tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَاَتُوْبُ إِلَيْهِ ×٣Aku memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, yang tidak ada tuhan yang patut disembah selain Dia, Yang Mahahidup, Yang Maha Berdiri sendiri, dan kepada-Nyalah aku bertaubat.
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ ×١١Tidak ada tuhan kecuali Allah Yang Mahamerajai, Yang Mahasuci
يَا اَللهُ يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ ×١١Wahai Allah Wahai Dzat Yang Mahahidup, wahai Dzat Yang Maha Berdiri sendiri, wahai Maha Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.
بِسْمِ اللهِ بِعَوْنِ اللّٰهِ، اَللّٰهُ يَا حَفِيْظٌ ×١١Dengan menyebut nama Allah, dengan pertolongan Allah, Allah wahai Maha Menjaga.
اِلٰهَنَا يَا سَيِّدَنَا أَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ، فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ، فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْمُنَافِقِيْنَ ×١١Wahai Tuhan kami, wahai Tuan kami, Engkau Tuan kami, maka tolonglah kami dari orang-orang kafir, maka tolonglah kami dari orang-orang zalim, maka tolonglah kami dari orang-orang munafik.
يَا حَنَّانُ، يَا مَنَّانُ، يَا دَيَّانُ ×٩Wahai Dzat Yang Maha Pengasih, wahai Dzat Yang Maha Memberi, wahai Dzat Yang Maha Membalas.
اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ يَا رِجَالَ الْغَيْبِ، يَا أَيُّهَا الْأَرْوَاحُ الْمُقَدَّسَةُ، أَغِيْثُوْنِي بِالْغَوْثَةِ، وَانْظُرُوْنِي بِالنَّظْرَةِ، يَا رُقَبَاءُ، يَا نُقَبَاءُ، يَا نُجَبَاءُ، يَا أَبْدَلُ، يَا أَوْتَادُ، يَا غَوْثُ، يَا قُطُبُ، أَغِيْثُوْنِي بِالْغَوْثَةِ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ×٣Semoga keselematan tercurahkan kepadamu wahai pasukan gaib, wahai ruh-ruh yang suci, tolonglah aku dengan pertolongan, perhatikanlah aku dengan perhatian, wahai wali Ruqaba, wahai wali Nuqaba, wahai wali Nujaba, wahai wali Abdal, wahai wali Autad, wahai wali Ghauts, wahai wali Qutub, tolonglah aku dengan pertolongan demi kebenaran Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam.
يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، بَلِّغْ عَلٰى الْمُسْلِمِيْنَ ×٣Wahai Sang Maha Penyayang, Wahai Sang Maha Penyayang, Wahai Sang Maha Penyayang, sampaikanlah (kasih sayang) pada kaum muslimin.
Share:

"Jika pertemanan seseorang tidak memberimu manfaat maka jangan mengambil untung dengan memusuhinya". (Imam Syafi'i)

"Jangan jadikan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja". (Hadratus Syekh K.H. Muh. Hasyim Asy'ari)

Terjemahkan

Tari Roddat Islami

Kutipan Kitab Kuning

Amalan Khusus

Launching Website

Sekapur Sirih Launchingnya ANWALIN.OR.ID - Website Baru Ansor Watulimo Online

SAMBUTAN KETUA PAC GP. ANSOR WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK   Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Bismillaahirrahmaanirrahiim Alhamdul...