Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khazanah. Tampilkan semua postingan

2/06/2025

Sejarah Tradisi Kupatan di Durenan Trenggalek: Dari Wali Songo hingga Mbah Mesir

Tradisi Kupatan merupakan akulturasi budaya yang dilakukan oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga. Sebelumnya, tradisi Kupatan merupakan sebuah simbol yang dikenal oleh masyarakat Jawa. Tradisi ini pada mulanya diaplikasikan dalam bentuk sesajen, yang bertujuan agar arwah manusia yang meninggal dunia dalam masa bayi bisa tenang. Oleh Sunan Kalijaga, ritual ini kemudian dimasukkan dalam perayaan lebaran ketupat (bodo kupat), sebuah perayaan yang dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal.

lebaran ketupat 8 syawal durenan trenggalek dari wali songo hingga kh abdul masyir keturunan mbah yahudo pacitan

Tradisi Kupatan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya sebagai ekspresi untuk melestarikan estafet dakwah yang telah dilakukan oleh para ulama terdahulu dalam menyebarkan Islam di Jawa. Karena tidak mungkin Islam bisa disebarluaskan tanpa menggunakan budaya lokal. Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi Kupatan semakin meluas sampai ke beberapa wilayah di Jawa Timur. Salah satunya di kecamatan Durenan, kabupaten Trenggalek.

Abdul Masyir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Mesir adalah orang pertama yang merintis Kupatan di Durenan. Penyebutan nama Mbah Mesir dikarenakan lidah orang Jawa yang selalu melafalkan huruf-huruf asli (Arab) dengan vokal lidah Jawa, sehingga nama Abdul Masyir berubah menjadi Mbah Mesir.

Setelah Mbah Mesir wafat, tradisi ini tetap dihidupkan oleh tokoh-tokoh penerusnya, antara lain: KH. Imam Mahyin, KH. Ahmad Mu’in dan KH. Abdul Fattah Mu’in. Kini, tradisi kupatan terus dipraktikkan oleh masyarakat Durenan secara alami, tanpa adanya intruksi dari seorang kiai. Saat ini, tradisi Kupatan tidak hanya dipraktikkan oleh masyarakat Durenan, tetapi sudah meluas sampai ke berbagai wilayah di Trenggalek.

Mbah Mesir adalah putra dari Kiai Yahudo, Slorok, Pacitan. Beliau masih keturunan dari Mangkubuwono III, yaitu salah satu guru Pangeran Diponegoro. Mbah Mesir merupakan kiai yang sangat terkenal dan memiliki kedekatan dengan Bupati Trenggalek saat itu. Mbah Mesir juga menjabat sebagai pejabat semacam MUI (baca: naib) Trenggalek, sehingga beliau juga menjadi rujukan berbagai permasalahan agama.

Karena keakrabannya dengan bupati, beliau selalu diundang ke pendopo Trenggalek. Undangan kunjungan tersebut selalu pada hari raya ke dua sampai ke lima. Namun, karena Mbah Mesir selalu mengistikamahkan berpuasa Syawal selama enam hari berturut-turut, beliau tidak memakan makanan yang dihidangkan oleh pihak pendopo.

Pada mulanya, tradisi kupatan akan diselenggarakan pada hari pertama Idul Fitri atas usulan beberapa keluarga Mbah Mesir. Namun, karena Mbah Mesir selalu istikamah dalam puasa Syawal tersebut, maka diputuskan kupatan dilaksanakan pada tanggal 8 Syawal, setelah Mbah Mesir menyelesaikan puasa sunnahnya.

Setelah Mbah Mesir menyelesaikan puasa sunnah Syawal, biasanya beliau membuat hidangan berupa ketupat dan sayur-sayuran untuk disajikan kepada para santri dan warga sekitar yang bersilaturahim ke rumahnya. Tak jarang sebelum memakan hidangan ketupat dan sayur-sayuran, terlebih dahulu dilakukan doa bersama seperti slametan.

Tradisi ini dilatarbelakangi oleh keresahan Mbah Mesir yang melihat beberapa masyarakat Durenan tidak melakukan puasa sunnah bulan Syawal setelah merayakan hari Raya Idul Fitri. Padahal, puasa bulan Syawal pahalanya sangat banyak dan bisa menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang. Melihat permasalahan ini, Mbah Mesir membuat gagasan baru dengan memadukan budaya dan syariat, yaitu puasa bulan Syawal selama 6 hari dan dilanjutkan dengan slametan kupat (tasyakuran ketupat) di pesantrenya.

Slametaan kupat ini kemudian menyebar ke berbagai masjid dan surau, bahkan sampai ke desa-desa di sekitar Durenan. Di samping itu, menurut beberapa informasi, tradisi tersebut tidak hanya dilakukan oleh kalangan Nahdlatul Ulama’ tetapi juga oleh beberapa kalangan Muhammadiyah, meskipun media perayaannya berbeda.

Ada empat hal yang ingin diajarkan oleh Mbah Mesir kepada masyarakat Durenan dan Trenggalek melalui tradisi ini.

Pertama, kesunahan melaksanakan puasa Syawal, sebagaimana hadis Nabi saw: “Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian diikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawwal, maka ia seolah-olah puasa setahun.

Kedua, anjuran agar selalu menyambung tali silaturahim dan silaturahmi, sebagaimana hadis Nabi saw: “Siapapun yang ingin diluaskan pintu rizki untuknya dan dipanjangkan ajalnya, hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi.”

Ketiga, anjuran agar selalu bersedekah. Masyarakat Durenan meyakini bahwa tradisi kupatan akan mendatangkan berkah bagi kehidupan mereka. Melalui tradisi inilah, mereka memberikan sedekah harta berupa makanan ketupat kepada siapa saja yang bertamu.

Keutamaan sedekah ini berdasarkan hadis Nabi saw: “Tidak ada hari di mana hamba-hamba Allah berada di waktu pagi melainkan ada dua malaikat yang turun, dimana salah satu di antara keduanya berdo’a: Wahai Allah, berikanlah ganti kepada orang yang suka berinfaq. Dan malaikat lain berdo’a: ‘Wahai Allah, binasakanlah orang yang kikir’.

Keempat, anjuran agar memuliakan dan menghormati tamu yang datang. Masyarakat Durenan sangat antusias dalam menyambut dan memuliakan para tamu yang datang ke rumahnya saat tradisi kupatan. Siapapun yang bertamu pasti akan dipersilahkan untuk menyantap kupat. Hal ini berdasarkan hadis Nabi saw: Siapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Wallahua’lam. (*)

Sumber : NU Trenggalek

Share:

Logo dan Semboyan “Jwalita Praja Karana”, Berkah Lesbumi NU untuk Kabupaten Trenggalek

Jika kita mencermati lambang atau logo Kabupaten Trenggalek yang berbentuk perisai bersudut lima, di sana terdapat selendang merah yang bertuliskan “Jwalita Praja Karana”. Tulisan tersebut merupakan semboyan atau moto daerah, yang secara singkat diartikan: “cemerlang karena rakyat”.

Dalam Kamus Indonesia-Jawa Kuno (Depdikbud, 1992), kata Jwalita berkaitan dengan kata sinarkilaukilatcahayacemerlang, dan bercahaya sangat terang. Kata praja bermakna negarakerajaan, atau pemerintahan. Sedangkan kata karana berarti lantaran atau sebab. Dengan demikian, semboyan Jwalita Praja Karana dapat dimaknai bahwa kebesaran dan kemegahan Kabupaten Trenggalek merupakan perwujudan dari semangat persatuan, gotong royong, serta dukungan dari rakyatnya. 

Dijadikannya petitih Jwalita Praja Karana sebagai semboyan daerah tidak terjadi secara ujug-ujug. Ada proses yang cukup panjang hingga ia ditetapkan sebagai semboyan resmi Kabupaten Trenggalek.

Diceritakan Hamid Wilis dalam bukunya yang berjudul Selayang Pandang Sejarah Trenggalek, pada tahun 1963 Menteri Dalam Negeri RI mengeluarkan instruksi agar Daerah-Daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, membuat lambang daerah yang mencantumkan bunyi semboyan atau nama daerah masing-masing. Atas dasar instruksi tersebut, Bupati Trenggalek, dengan persetujuan DPRD, membentuk panitia pembuatan lambang Daerah.

Panitia lantas membuka sayembara. Sayembara pertama ditujukan untuk memperoleh bunyi semboyan. Semua organisasi kesenian dan kebudayaan yang ada di kabupaten Trenggalek diundang untuk mengikuti kompetisi. Di antaranya Lembaga Kebudayaan Nasional atau LKN (PNI), Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra (PKI), dan Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia atau Lesbumi (NU).

Kompetisi pertama, yakni pembuatan bunyi semboyan, dimenangkan oleh Lesbumi NU. Bunyi slogan “Jwalita Praja Karana” dari Lesbumi NU Trenggalek ditetapkan sebagai pemenang, serta disetujui oleh DPRD.

Hamid Wilis, dalam naskahnya yang lain—yang baru saja diterbitkan oleh GP Ansor Trenggalek—menyebut bahwa slogan “Jwalita Praja Karana” merupakan ide dari salah seorang pengurusnya yang bernama Suprapto. Suprapto saat itu bekerja sebagai guru Basa Jawa di SPG Negeri Trenggalek. Ide dari Suprapto tersebut didaftarkan ke panitia secara kelembagaan—dengan ditandatangi Ketua Lesbumi NU Trenggalek, Kamidjan, dan Sekretaris, Hamid Wilis. 

Setelah bunyi semboyan diperoleh, panitia kemudian membuka sayembara kedua untuk merancang lambang Daerah. Semua organisasi seni-budaya kembali dilibatkan.

Kali ini, Lesbumi NU Trenggalek menugaskan Sumaryo, pengurus yang dianggap piawai dalam seni rupa. Hasil kreasi dari Sumaryo kemudian didaftarkan oleh Lesbumi NU kepada panitia.

Akan tetapi pada sayembara kedua ini, tidak ada satu usulan pun yang memuaskan panitia. Panitia memutuskan untuk membentuk tim perumus. Tugasnya adalah untuk merancang lambang Daerah, dengan mempertimbangkan semua usulan dari peserta yang sudah masuk ke panitia. Sumaryo dilibatkan dalam tim tersebut, mewakili Lesbumi NU.

Akhirnya, tim berhasil membuat lambang Daerah untuk Kabupaten Trenggalek, yang di dalamnya memuat bunyi semboyan “Jwalita Praja Karana”. Bentuk lambang dan bunyi semboyan tersebut—beserta penjelasan atau makna filosofisnya—diserahkan kepada Bupati Trenggalek, kemudian diteruskan ke DPRD. Setelah diplenokan, lambang dan semboyan tersebut ditetapkan sebagai lambang dan semboyan resmi Kabupaten Trenggalek.

Menurut Hamid Wilis, pada tahun 1967, Pemerintah Daerah melakukan sedikit revisi untuk bagian penjelasan atau makna filosofisnya. Sedangkan bentuk logo dan bunyi semboyannya tetap, sebagaimana digunakan hingga saat ini.

Demikianlah, jika kita membaca semboyan “Jwalita Praja Karana” yang tertera dalam logo Kabupaten Trenggalek, seyogyanya kita ingat bahwa keduanya merupakan berkah dari Lesbumi NU untuk Kabupaten Trenggalek.


Sumber : NU Trenggalek
Share:

"Jika pertemanan seseorang tidak memberimu manfaat maka jangan mengambil untung dengan memusuhinya". (Imam Syafi'i)

"Jangan jadikan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja". (Hadratus Syekh K.H. Muh. Hasyim Asy'ari)

Terjemahkan

Tari Roddat Islami

Kutipan Kitab Kuning

Amalan Khusus

Launching Website

Sekapur Sirih Launchingnya ANWALIN.OR.ID - Website Baru Ansor Watulimo Online

SAMBUTAN KETUA PAC GP. ANSOR WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK   Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Bismillaahirrahmaanirrahiim Alhamdul...