Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

7/04/2025

Ziarah Kubur: Antara Tradisi, Spiritualitas, dan Refleksi Kehidupan


Pendahuluan

Ziarah kubur merupakan salah satu tradisi yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Islam, khususnya di Indonesia. Aktivitas ini tidak hanya sekadar kunjungan ke makam, tetapi juga menjadi sarana refleksi spiritual, pengingat akan kematian (dzikrul maut), serta wujud penghormatan kepada para leluhur dan orang yang telah meninggal dunia.


Makna dan Tujuan Ziarah Kubur

Dalam Islam, ziarah kubur dianjurkan sebagai bentuk ibadah yang memiliki dimensi keimanan dan sosial. Rasulullah SAW bersabda:
"Dulu aku melarang kalian ziarah kubur. Sekarang, ziarahlah kubur, karena ziarah kubur itu dapat mengingatkan kalian kepada kematian."
(HR. Muslim)

Tujuan utama dari ziarah kubur adalah untuk mengingat kematian dan kehidupan akhirat, meningkatkan ketakwaan kepada Allah, serta mendoakan arwah orang yang telah meninggal dunia agar mendapat ampunan dan tempat terbaik di sisi-Nya.


Ziarah Kubur dalam Tradisi Masyarakat

Di Indonesia, ziarah kubur sering dilakukan menjelang bulan Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri, atau pada hari-hari tertentu yang dianggap istimewa. Tidak jarang ziarah juga dilakukan di makam para wali, ulama, atau tokoh agama yang dihormati. Dalam tradisi ini, para peziarah biasanya membaca surat Yasin, tahlil, dan doa-doa khusus.

Meskipun sebagian kelompok mengkritik beberapa bentuk ziarah yang dinilai berlebihan atau bertentangan dengan ajaran Islam murni, namun mayoritas ulama sepakat bahwa ziarah kubur tetap memiliki landasan syar’i jika dilakukan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan.


Etika dan Tata Cara Ziarah Kubur

Agar ziarah kubur sesuai dengan tuntunan Islam, ada beberapa etika yang perlu diperhatikan:

  1. Niat yang Ikhlas: Datang ke makam semata-mata untuk mengingat kematian dan mendoakan yang telah wafat.

  2. Mengucapkan Salam: Mengucapkan salam kepada penghuni kubur sebagaimana yang diajarkan Nabi.

  3. Mendoakan Arwah: Membaca doa dan memohonkan ampunan bagi mereka yang telah meninggal.

  4. Menjaga Adab: Tidak melakukan hal-hal yang melanggar syariat seperti meratap, memohon langsung kepada penghuni kubur, atau melakukan ritual yang tidak sesuai ajaran Islam.


Refleksi dan Manfaat Ziarah Kubur

Ziarah kubur dapat membangkitkan kesadaran spiritual tentang kefanaan hidup di dunia dan pentingnya mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Dengan merenungkan kematian, manusia terdorong untuk memperbaiki akhlak, meningkatkan ibadah, serta mempererat silaturahmi keluarga.


Kesimpulan

Ziarah kubur merupakan tradisi yang sarat makna spiritual dan sosial. Selama dilakukan sesuai dengan ajaran Islam, ziarah kubur dapat menjadi sarana refleksi diri, mempererat hubungan antar keluarga, dan mengingatkan manusia akan kehidupan yang kekal di akhirat.


Daftar Pustaka / Referensi

  1. Al-Qur'anul Karim

  2. Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Dar al-Fikr, Beirut, 2000.

  3. Al-Nawawi. Riyadhus Shalihin. Dar al-Minhaj, 2005.

  4. Qardhawi, Yusuf. Fatwa-Fatwa Kontemporer, Mizan, Bandung, 2007.

  5. Ghazali, Abu Hamid. Ihya Ulumuddin, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut.

  6. Sabiq, Sayyid. Fiqh Sunnah, Dar al-Fikr, 1990.

  7. Asmuni, S. Tradisi Ziarah Kubur di Indonesia: Antara Budaya dan Agama, Jurnal Studi Islam, Vol. 5 No. 2, 2017.



Oleh : Murdiyanto (Ketua PAC GP. Ansor Watulimo)
Share:

6/06/2025

Refleksi Idul Adha 1446 Hijriyah - Iman Membutuhkan Pengorbanan


Sebuah keniscayaan bahwa, setiap manusia pasti mengalami dan merasakan ujian atau cobaan hidup yang berbeda. Bisa berupa kegagalan, kesulitan dan kehilangan, bahkan kesenangan dan kebahagiaan. Semua itu merupakan bentuk takdir dari Allah Ta'ala, untuk menguji keimanan, kesabaran dan keteguhan hati hamba-Nya, serta untuk meningkatkan derajat di sisi-Nya. 
.
Seperti yang Allah Ta'ala firmankan dalam Surat Al-Mulk ayat 2:

ࣙالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ

Artinya: “Yaitu (Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang lebih baik amalnya. Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” 

Kehidupan dunia ini untuk menguji manusia, siapa diantara mereka yang patuh pada perintah Allah, dan untuk memilih mana perbuatan yang paling baik untuk dikerjakannya, sehingga perbuatannya diridhai Allah Ta'ala. 

Selain itu, juga untuk mengetahui siapa yang tetap kokoh imannya dan sabar menjalani ujian hidupnya. Karena berdasarkan ujian tersebut, ditetapkannya derajat manusia di Sisi Allah Ta'ala. 

Artinya bahwa, semakin kuat iman seseorang dan semakin patuh pada perintah Allah, semakin tinggi pula derajat dan martabat yang diperoleh di Sisi Allah. Sebaliknya, jika menuruti hawa nafsu sehingga tidak lagi beriman dan taat kepada Allah, maka akan terhinalah ia di akhirat.

Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Sang Khalilullah, yakni Nabi Ibrahim 'alaihissalam. Beliau adalah sosok yang terkenal dengan kesabaran dan ketawakalannya kepada Allah Ta'ala, baik dalam menjalankan dakwah maupun menghadapi tantangan dalam keluarga.

Kesabaran beliau tercermin dari dakwahnya ketika melawan kemusyikan dan mengajak kepada tauhid, yang tidak hanya ditolak oleh kaumnya saja, namun juga dari ayahandanya sendiri. Semuanya dihadapi dengan penuh kesabaran, kelembutan hati dan keteguhan jiwa. 

Dan ketawakalan beliau begitu nyata, ketika menerima perintah dari Allah untuk menyembelih putra tercintanya.

Keteladanan Nabi Ibrahim ini adalah bukti, bahwa kecintaan kepada Allah Ta'ala harus ditempatkan di atas segalanya. Bahwa kecintaan pada harta, manusia dan keluarga tidak boleh mengalahkan kecintaan kita kepada Allah Ta'ala.

Cinta kepada Allah adalah kunci bagi orang-orang yang beriman dan menjadi pondasi iman yang kokoh.

Selain meneladani hal-hal tersebut, jangan lupa juga untuk menjalankan ibadah kurban, karena ibadah kurban mengingatkan kita tentang artinya pengorbanan kepada Allah Ta'ala. Bahwa tidak ada iman dan takwa tanpa kita diuji dengan hal-hal yang paling kita cintai di dunia.

Ibadah kurban juga sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, menumbuhkan rasa syukur pada-Nya, serta meningkatkan kepedulian kita terhadap sesama, terutama pada kaum dhu'afa'.

------------
Kutipan Khutbah Idul Adha PC LDNU Trenggalek
Disampaikan pada Shalat Idul Adha 1446 H. / 2025 M.
Oleh : Murdiyanto (Ketua PAC GP. Ansor Watulimo
Di Mushola "Al-Mubarak" Srikaton, Desa Gemaharjo Kec. Watulimo
Pada tanggal : 10 Dzulhijjah 1446 H./ 06 Juni 2025 M.
.
Share:

4/24/2025

Team Work dan Komunikasi Efektif dalam Gerakan Pemuda Ansor

Team Work dan Komunikasi Efektif dalam Gerakan Pemuda Ansor

Oleh: Murdiyanto

Pendahuluan

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) sebagai organisasi kepemudaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa melalui kaderisasi, penguatan ideologi, dan pengabdian sosial-keagamaan. Dalam menjalankan peran tersebut, dua aspek fundamental yang harus dimiliki setiap kader adalah kemampuan kerja sama tim (team work) dan komunikasi yang efektif. Kedua aspek ini menjadi motor penggerak keberhasilan setiap program, baik di tingkat ranting, PAC, hingga pusat.


Makna Team Work dalam Konteks Ansor

Team work adalah kemampuan bekerja sama dalam satu tim guna mencapai tujuan bersama. Dalam organisasi seperti GP Ansor, di mana berbagai latar belakang kader menyatu dalam satu gerakan, sinergi tim menjadi kunci utama keberhasilan. Team work di GP Ansor tidak hanya berbentuk kerja teknis di lapangan, seperti pengamanan kegiatan NU atau pelatihan kaderisasi, tetapi juga kerja kolektif dalam perencanaan, evaluasi, dan pengambilan keputusan strategis.

Dalam struktur GP Ansor, prinsip jam’iyyah menjadi ruh kebersamaan yang menyatukan berbagai unsur. Team work menuntut setiap anggota untuk berkontribusi aktif, saling percaya, serta menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap organisasi. Melalui kegiatan seperti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) atau Diklat Terpadu Dasar (DTD), kader GP Ansor dibentuk agar memiliki semangat kebersamaan dan etos kerja tim.


Komunikasi sebagai Jembatan Sinergi

Komunikasi yang efektif dalam organisasi seperti GP Ansor bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi menyangkut cara menyatukan visi, membangun kepercayaan, dan menyelesaikan konflik. Komunikasi yang baik akan menciptakan suasana kondusif untuk kolaborasi. Sebaliknya, komunikasi yang buruk berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan perpecahan internal.

Dalam konteks ini, komunikasi yang ideal adalah komunikasi yang bersifat horizontal dan partisipatif. Pengurus dan anggota harus mampu mendengar dan menyampaikan pendapat secara terbuka. Forum-forum resmi seperti rapat rutin, musyawarah kerja, dan pelatihan harus menjadi ruang dialog yang jujur, kritis, dan produktif.

Penggunaan teknologi komunikasi juga penting, terutama dalam era digital. Grup WhatsApp, media sosial, dan aplikasi manajemen organisasi bisa mempercepat koordinasi dan memperluas jangkauan informasi. Namun, tetap diperlukan etika komunikasi yang santun dan bertanggung jawab.


Kolaborasi Nyata: Studi Kasus PKD dan Kegiatan Sosial

Salah satu contoh nyata dari perpaduan team work dan komunikasi efektif di GP Ansor adalah pelaksanaan kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD). PKD membutuhkan kerja sama antara berbagai bidang: kaderisasi, perlengkapan, konsumsi, logistik, dokumentasi, dan kehumasan. Dalam proses ini, team work dibuktikan melalui pembagian tugas yang proporsional dan pelaksanaan tanggung jawab yang kolektif.

Selain itu, kegiatan sosial seperti bakti sosial, donor darah, atau bantuan bencana menjadi ajang penerapan kerja sama lintas sektor, baik dengan Banser, Fatayat, Muslimat NU, maupun pihak eksternal. Komunikasi yang terbuka, koordinatif, dan berbasis solusi menjadi faktor utama kesuksesan kegiatan tersebut.


Kesimpulan

Team work dan komunikasi adalah dua pilar utama yang harus dibangun secara berkelanjutan dalam tubuh GP Ansor. Tanpa kerja sama yang solid dan komunikasi yang efektif, sehebat apapun program kerja yang dirancang tidak akan mampu diwujudkan secara optimal. Oleh karena itu, setiap kader GP Ansor harus dibekali keterampilan interpersonal, kepemimpinan kolaboratif, serta kemampuan berkomunikasi secara etis dan efisien. Dengan demikian, GP Ansor akan semakin kuat dalam menghadirkan kemanfaatan bagi umat dan bangsa.


Daftar Pustaka

  1. Robbins, S. P., & Judge, T. A. (2017). Organizational Behavior (17th ed.). Pearson Education.

  2. Yukl, G. (2013). Leadership in Organizations (8th ed.). Pearson.

  3. Luthans, F. (2011). Organizational Behavior (12th ed.). McGraw-Hill Education.

  4. Rifai, A. (2019). Kepemimpinan dan Manajemen Organisasi. Jakarta: Prenadamedia Group.

  5. Tim Litbang GP Ansor. (2020). Pedoman Kaderisasi GP Ansor. Jakarta: PP GP Ansor.

  6. Munawir, M. (2022). “Peran Komunikasi Organisasi dalam Penguatan Ideologi Kader NU,” Jurnal Dakwah dan Komunikasi Islam, Vol. 6 No. 2.


Penulis : Kepala BSA Trenggalek / Wakil Ketua PC GP. Ansor Trenggalek

Share:

Keorganisasian dan Kepemimpinan di Gerakan Pemuda Ansor

Pendahuluan

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) merupakan organisasi kepemudaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang berperan penting dalam kaderisasi, dakwah, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan di kalangan pemuda Islam Indonesia. Sejak berdiri pada tahun 1934, GP Ansor telah menjadi wadah strategis pembinaan pemuda Islam, khususnya warga Nahdliyin, dalam bidang keagamaan, sosial, kebangsaan, dan kepemimpinan. Untuk menggerakkan roda organisasi, diperlukan sistem keorganisasian yang terstruktur serta kepemimpinan yang kuat, visioner, dan kolektif-kolegial.


Struktur dan Sistem Keorganisasian GP Ansor

GP Ansor memiliki sistem keorganisasian berjenjang dari pusat hingga ranting:

  • Pimpinan Pusat (PP GP Ansor): Tingkat nasional, sebagai penentu arah strategis dan kebijakan umum.
  • Pimpinan Wilayah (PW): Tingkat provinsi.
  • Pimpinan Cabang (PC): Tingkat kabupaten/kota.
  • Pimpinan Anak Cabang (PAC): Tingkat kecamatan.
  • Pimpinan Ranting (PR): Tingkat desa/kelurahan.

Masing-masing level organisasi memiliki struktur lengkap, mulai dari ketua, sekretaris, bendahara, dan bidang-bidang kerja, seperti kaderisasi, dakwah, sosial ekonomi, dan lainnya. Penguatan kader dilakukan melalui pelatihan-pelatihan seperti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), dan Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU).


Karakteristik Kepemimpinan dalam GP Ansor

Kepemimpinan dalam GP Ansor mengedepankan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dengan ciri:

  1. Berbasis Kolektif-Kolegial: Kepemimpinan tidak bersifat satu arah. Musyawarah dan mufakat menjadi prinsip dasar pengambilan keputusan.
  2. Kepemimpinan Kaderisasi: Pemimpin di GP Ansor tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga bertugas membina dan mencetak kader pemimpin baru.
  3. Spiritual Leadership: Ketaatan terhadap ajaran Islam, cinta tanah air (hubbul wathan minal iman), serta loyalitas terhadap ulama dan organisasi menjadi dasar moral pemimpin.
  4. Transformasional dan Inklusif: Pemimpin Ansor diharapkan mampu membawa perubahan positif melalui pendekatan partisipatif, membangun solidaritas, dan menjunjung tinggi keberagaman.

Tantangan dan Strategi Penguatan Organisasi

Beberapa tantangan yang dihadapi GP Ansor di era modern antara lain:

  • Radikalisme dan Intoleransi: GP Ansor perlu terus memperkuat dakwah moderat dan menjaga NKRI dari ancaman paham radikal.
  • Digitalisasi Organisasi: Adaptasi terhadap teknologi informasi menjadi kebutuhan mendesak untuk memperkuat komunikasi, administrasi, dan kaderisasi.
  • Regenerasi dan Profesionalitas: Diperlukan strategi regenerasi kader yang sistematis dan pembinaan kepemimpinan berbasis kompetensi dan karakter.

Strategi penguatan organisasi meliputi: optimalisasi kaderisasi berjenjang, pelibatan kader muda dalam pengambilan keputusan, dan kolaborasi dengan lembaga pemerintah dan masyarakat sipil.


Kesimpulan

GP Ansor sebagai organisasi kepemudaan NU memiliki sistem keorganisasian yang mapan dan kepemimpinan yang berorientasi pada kaderisasi, kolektifitas, dan spiritualitas. Dalam menghadapi tantangan zaman, GP Ansor dituntut untuk memperkuat basis kader, mengembangkan kepemimpinan transformatif, dan beradaptasi dengan dinamika sosial-politik yang ada.


Referensi

  1. Ansor, G. P. (2020). Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga Gerakan Pemuda Ansor. Jakarta: PP GP Ansor.
  2. Yaqut Cholil Qoumas. (2019). Menjadi Pemimpin Ansor: Gagasan dan Gerakan. Jakarta: GP Ansor Press.
  3. Asrori, M. (2021). Kepemimpinan Santri dalam Dinamika Organisasi Keagamaan. Jurnal Sosial dan Keagamaan, 12(1), 45-59.
  4. Zuhri, A. (2022). Gerakan Islam Moderat dan Tantangan Radikalisme: Peran GP Ansor dalam Menjaga NKRI. Jurnal Keislaman dan Politik, 5(2), 23-38.
  5. Mulkhan, A. M. (2002). Paradigma Baru Gerakan Islam. Yogyakarta: Sipress.
  6. Ali, M. (2018). Transformasi Organisasi Pemuda Islam. Bandung: Alfabeta.

Penulis : Murdiyanto (Wakil Ketua PC GP. Ansor Trenggalek)

Share:

Keaswajaan dalam Gerakan Pemuda Ansor


Keaswajaan dalam Gerakan Pemuda Ansor

Pendahuluan

Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) merupakan salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang berperan penting dalam merawat tradisi keagamaan Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di kalangan pemuda. Sebagai organisasi kepemudaan, GP Ansor bukan hanya bergerak dalam bidang sosial dan kebangsaan, tetapi juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga, mengembangkan, dan mengamalkan nilai-nilai keaswajaan.

Pengertian Keaswajaan

Keaswajaan adalah bentuk pengamalan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, sebuah manhaj (metodologi) berpikir dan beragama yang mengikuti pemahaman para ulama salafus shalih, terutama dalam tiga dimensi: akidah, fikih, dan tasawuf.

  • Dalam akidah, Aswaja mengikuti aliran Imam Abu Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi.

  • Dalam fikih, Aswaja mengikuti salah satu dari empat madzhab, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

  • Dalam tasawuf, Aswaja mengikuti ajaran tasawuf amali yang dikembangkan oleh Imam al-Ghazali dan tokoh-tokoh sufi lainnya yang mementingkan akhlak dan penyucian jiwa.

Peran GP Ansor dalam Menjaga Keaswajaan

1. Kaderisasi Ideologis

Melalui berbagai pelatihan seperti Diklat Terpadu Dasar (DTD), Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), dan Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), GP Ansor menanamkan ideologi Aswaja kepada setiap kader. Tujuannya agar kader memiliki fondasi keislaman yang moderat, toleran, dan kontekstual.

2. Penguatan Tradisi Keagamaan

GP Ansor aktif dalam kegiatan keagamaan seperti tahlil, istighotsah, manaqiban, dan peringatan hari besar Islam yang semuanya merupakan manifestasi dari ajaran Aswaja. Ini sekaligus menjadi bentuk perlawanan terhadap paham radikal yang ingin menghapus tradisi Islam Nusantara.

3. Pendidikan dan Dakwah

Ansor menyelenggarakan pengajian, halaqah, diskusi keilmuan, hingga kajian kitab kuning di berbagai tingkatan sebagai bentuk dakwah keaswajaan. Program-program ini memperkuat pemahaman Islam rahmatan lil ‘alamin di tengah masyarakat.

4. Penguatan Nilai Kebangsaan

Keaswajaan yang diusung GP Ansor sangat sejalan dengan nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme. Konsep hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian dari iman) menjadi doktrin yang menjembatani antara keislaman dan keindonesiaan.

Tantangan dan Strategi

GP Ansor menghadapi tantangan berupa arus globalisasi, penyebaran paham transnasional yang tidak sejalan dengan Aswaja, serta derasnya media sosial yang bisa menjadi alat penyebaran radikalisme. Untuk itu, strategi yang dilakukan antara lain:

  • Menyebarkan konten digital Aswaja melalui media sosial.

  • Menjalin kolaborasi dengan pesantren, lembaga pendidikan, dan pemerintah.

  • Melakukan pendekatan kepada generasi muda melalui dakwah yang kreatif dan kontekstual.

Penutup

Keaswajaan adalah ruh utama dalam setiap gerak langkah Gerakan Pemuda Ansor. Melalui penguatan ideologi, pelestarian tradisi, serta dakwah yang adaptif, GP Ansor membuktikan eksistensinya sebagai garda terdepan penjaga Islam moderat di Indonesia. Ke depan, Ansor perlu terus memperkuat sinergi lintas sektor dan memaksimalkan peran digital untuk meneguhkan Aswaja di tengah dinamika zaman.


Referensi

  1. Abdul Mun’im DZ. (2017). Ahlussunnah wal Jamaah: dari Masa ke Masa. LKiS.

  2. Sahal Mahfudh. (2001). Nuansa Fiqih Sosial. LKiS.

  3. Wahid, Z. (2009). Islam Nusantara: dari Ushul Fiqh sampai Paham Kebangsaan. Maarif Institute.

  4. Website Resmi GP Ansor. https://ansor.id

  5. KH. MA. Sahal Mahfudh & KH. Ali Yafie. (1998). Ke-NU-an dan Keaswajaan. Lajnah Ta'lif wan Nasyr PBNU.


Penulis : Murdiyanto - Kepala BSA Trenggalek / Wakil Ketua PC GP. Ansor Trenggalek

Share:

2/02/2025

PARADIGMA GERAKAN ANSOR - BANSER


Masuknya era digital, adalah masa di mana setiap orang dapat berkomunikasi dengan lebih mudah, meskipun berada jauh secara geografis. Menurut Wikipedia, revolusi digital dapat dianggap sebagai bagian dari globalisasi, yaitu integrasi internasional yang terjadi berkat pertukaran pandangan, pemikiran, produk, dan aspek budaya lainnya, yang didorong oleh perkembangan infrastruktur telekomunikasi, internet, dan transportasi. 

Era digital adalah waktu saat ini ketika teknologi digital seperti komputer, internet, ponsel, dan cloud digunakan dan diadopsi secara luas dan dapat mengubah banyak aspek masyarakat dalam segi bisnis hingga budaya. Dalam era digital, informasi dapat diakses dengan cepat dan mudah, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan. Bisnis besar hingga kecil seperti UMKM kini dapat memanfaatkan data dan analitik untuk mengambil keputusan yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional, dan menjangkau pelanggan dengan cara yang lebih efektif. Di sisi lain, budaya juga mengalami transformasi, di mana seni, hiburan, dan cara kita berinteraksi satu sama lain semakin dipengaruhi oleh platform digital.

Perubahan yang cepat ini memberikan tantangan sekaligus peluang. Masyarakat dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang terus menerus, sementara individu dan organisasi harus mengembangkan keterampilan baru agar dapat bersaing di pasar yang semakin digital. Dengan memahami pengertian dan dampak dari era digital, kita dapat lebih siap menghadapi perubahan yang ada dan memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh teknologi. Jawabanya kemudian adalah, Ansor dan Banser sebagai organisasi kepemudaan yang besar harus melakukan Langkah-langkah startegis, dengan terus menepatkan perubahan-perubahan sebagai ruang kontekualisasi dari pemahaman yang sama.

Memang kita harus pahami beberapa tantangan kedepan dalam era digital tersebut, Tantangan di Era Digital satu Perubahan yang Cepat: Salah satu tantangan terbesar era digital adalah perubahan teknologi yang pesat. Perkembangan teknologi yang pesat menuntut kita untuk terus belajar dan beradaptasi terhadap perubahan. Hal ini dapat menyulitkan individu dan bisnis yang tidak dapat mengikuti perkembangan teknologi terkini. Kedua, Keamanan Cyber, dalam era digital, keamanan cyber menjadi tantangan yang besar. Serangan cyber dapat merusak reputasi perusahaan, mencuri data penting, atau menghancurkan keseluruhan system. Oleh karena itu, organisasi harus menginvestasikan sumber daya yang cukup untuk melindungi diri dari serangan cyber.

Ketiga adalah persaingan yang Ketat, di era digital, persaingan di pasar menjadi semakin ketat. Teknologi telah memungkinkan perusahaan dan organisasi dari berbagai negara untuk bersaing di pasar global. Oleh karena itu, perusahaan dan organisasi harus mampu menawarkan nilai yang unik dan berbeda agar tetap kompetitif di era digital. Keempat, perubahan pola konsumen dimana igitalisasi telah mengubah perilaku konsumen. Konsumen saat ini semakin banyak berbelanja online dan menggunakan media sosial untuk mendapatkan informasi tentang produk dan layanan. Oleh karenanya dalam dunia usah harus mampu beradaptasi terhadap perubahan perubahan ini dan memanfaatkannya untuk mencapai kesuksesan.

Penjelasan yang diatas adalah tantangan secara umum, Adapun secara organisasi di era digital adalah bagaimana organisasi melakukan perubahan secara prododuktif dan kreatif agar kemudian bermanfaatnya organisasi ini bisa terasa buat para organisator dan masyaraat secara luas. Karena dengan mencoba melakukan proses-proses inovatif dan kreatif maka kemanfaatan dan kemaslahatannya akan semakin bisa diandalkan bagi kehidupan bermasyarakat dan berkebangsaan.

Berikut ini adalah beberapa strategi efektif yang dapat digunakan untuk mengelola perubahan organisasi di era digital. Pertama, adalah membangun budaya inovasi, yang dimaksud dengan budaya inovasi merupakan fondasi penting dalam mengelola perubahan. Organisasi harus mendorong para kaderisasinya untuk berpikir kreatif dan mencari solusi baru untuk masalah yang ada. Ini bisa dilakukan dengan menyediakan ruang bagi eksperimen dan tidak takut gagal. Selain itu, penghargaan terhadap ide-ide inovatif akan memotivasi kader untuk terus berkontribusi. 

Kedua melakukan komunikasi yang transparan, Komunikasi yang efektif dan transparan sangat penting dalam mengelola perubahan. Pemimpin organisasi harus menyampaikan visi dan tujuan perubahan dengan jelas kepada seluruh kader-kader oragnisasi. Hal itu dilakukan agar kemudian apa yang menjadi tujuan pimpinan organisasi bisa tersampaikan agar membantu mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan kepercayaan kader terhadap proses perubahan. 

Ketiga, terusnya dilakukan pelatihan dan pengembangan kaderisasi dimana era digital menuntut keterampilan baru yang mungkin belum dimiliki oleh semua kader di semua tingkatan. Keinginan dengan pelatihan dan pengembangan agar kemudian organisasi bisa meningkatkan kopetensi kader dan juga bisa mempersiapkan kader-kader terbaik bagi peorses perubahaan saat ini. Keempat adalah Kepemimpinan yang Adaptif dimana seorang pemimpin yang adaptif dan fleksibel merupakan kunci keberhasilan dalam mengelola perubahan. Seorang pemimpin harus dapat dan mampu untuk memunculkan Keputusan yang cepat dan efektif ditengah situasi dan kondisi perubahan yang serba tidak pasti maka dengan sikap seperti itu bisa memotivasi kader untuk dapat menerima serta mendukung kebijakan organisasi yang ditetapkan oeleh seorang pemimpin organisasi.

Kelima, Menggunakan Teknologi dengan Bijak dimana Teknologi merupakan enabler utama dalam perubahan organisasi di era digital, maka organisasi harus mampu memilih dan mengimplementasikan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun, penggunaan teknologi harus dilakukan dengan bijak agar tidak menimbulkan resistensi dari bagi kader. Pendekatan bertahap dan partisipatif dalam implementasi teknologi akan membantu mengurangi resistensi tersebut. Seperti sekarang ini, Ansor sudah memunculkan sebuah aplikasi yang bernama SIApps Menurut situs resmi Ansor, SIApps adalah platform digital yang mengintegrasikan pelayanan program Ansor dengan kebutuhan masyarakat. 

SIApps menawarkan berbagai fitur yang memudahkan masyarakat untuk mengetahui kegiatan Ansor dan mendapatkan informasi yang bermanfaat untuk aktivitas sehari-hari. Berikut adalah fitur-fitur SIApps: Ekonomi: Menyediakan layanan informasi peningkatan kapasitas usaha. Konsultasi: menyediakan layanan konsultasi keuangan, hukum, perpajakan, dan keagamaan. Karir: Memberikan informasi lowongan kerja di dalam dan luar negeri.Keenam, yaitu manajemen perubahan yang terstruktur karena proses perubahan harus dikelola dengan terstruktur dan sistematis. 

Oleh karenanya, manajemen perubahan yang baik harus melibatkan perencanaan yang matang, pelaksanaan yang terkontrol, dan evaluasi yang berkelanjutan. Pemimpin organisasi harus menetapkan indikator keberhasilan dan memantau perkembangan perubahan secara berkala, agar menjadi alat ukur sebuah keberhasilan organisasi yaitu kemanfaatan dan kemaslahatannya.

Ketujuh, dari semua ini maka harus membangun tim yang Solid dikarenakan situasi dan kondisi percepatan dalam perubahan akan lebih mudah dikelola jika organisasi dengan memiliki tim yang solid dan kompak. Kolaborasi dan kerja sama antar tim harus diperkuat agar kemudian organisasi dapat membentuk tim perubahan yang terdiri dari berbagai kader dari berbagai departemen untuk memastikan bahwa setiap aspek perubahan diperhatikan dan ditangani dengan baik dan sempurna sesuai dengan kebutuhan situasi yang mengharuskan berbagai program kerja bisa terlaksana secara matang sesuai keinginan dari pimpinan organisasi.

Dari hal yang demikianlah, langkah-langkah yang dilakukan oleh Ketua Umum Ansor Sahabat Adien Joharuddin melindaklanjuti kepemimpinan sebelumnya menjadi sangat tepat untuk melakukan paradigma (cara pandang) pada perubahan yang terjadi, sehingga gagasan pemikiran yang sangat strategis dilakukan untuk mengimbangi dan atau mensiasati laju perkembangan sekarang ini yang begitu cepat dengan menepatkan posisi penguatan Sumber Daya manusia (SDM) dan Ekonomi di tubuh organisasi. Dengan Langkah yang dilakukan untuk penguatan internal, dan terus melakukan koneksitas dan jaringan dengan berbagi pemangku kebijakan serta pemangku ekonomi merupakan ruang yang terus dirajut agar kontektualisasi ini menemukan alurnya.

Inilah menurut saya Peta Jalan yang sedang dibangun oleh sahabat Ketua Umum agar kemudian organisasi besar ini tidak kehilangan momen-momen penting terhadap perkembangan jaman yang begitu cepat, dengan memanfaatkan pola jaringan dan pola perubahan sekarang ini maka ruang gerak baru terus diciptakan sehingga jalan panjang kedepan menemukan arusnya dengan situasi nasional dan global saat ini. Karena ibarat kapal besar yang sudah lepas dilautan, maka ombak sebesar apapun akan menjadi teman dalam berselancar menuju samudera yang sangat luas. Sekali lagi saya sangat yakin Sahabat Ketum Gus Adin sedang melakukan berbagai inovasi dan kreativitas sangat penting. Sebagai Tokoh Pemuda yang sangat diperhitungkan, beliau sedang menjadi Nahkoda Besar kepemudaan untuk kemajuan bangsa dan negara.......Terus Melaju Sahabat ....kami semua berada di belakang panjenengan.


Oleh : Ahmad Bintang Irianto (Kadensus 99 SATKORNAS BANSER)
Share:

1/25/2025

Kemuliaan dan Keberkahan Bulan Rajab


Bulan Rajab terletak di antara Bulan Jumadil Akhir dan Sya’ban. Perlu kita ketahui bahwa bulan Rajab adalah bulan yang penuh keberkahan dan sangat mulia di sisi Allah SWT.

 

Dalam kitab Durratun Nasihin menjelaskan keutamaan bulan Rajab, sebagaimana berikut:

 

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلاَمُ؛ إِنَّ رَجَبَ شَهْرُ اللهِ وَشَعْبَانَ شَهْرِيْ وَرَمَضَانَ شَهْرُ أُمَّتِيْ

 

“Rasulullah Saw. bersabda: sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan Allah, bulan Sya’ban adalah bulanku, dan bulan Ramadhan adalah bulan ummatku.”

 

Dari hadits di atas sudah dapat kita gambarkan betapa istimewanya bulan Rajab yang mana bulan ini adalah bulannya Allah yang istimewa dan di dalamnya terdapat banyak keberkahan tentunya.

 

Bulan Rajab termasuk satu dari empat Al Asyhur Al-Hurum atau bulan-bulan haram, bulan-bulan yang suci dan mulia, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

 

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ - التوبة؛ ٣٦

 

Artinya: Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya 4 bulan haram. (QS At-Taubah: 36). 

 

Allah menyebut 4 bulan tersebut sebagai bulan-bulan Haram karena pada awalnya peperangan diharamkan pada keempat bulan tersebut. Abu Nu’aim dan Ibnu sunni meriwayatkan bahwa Rasulullah setiap kali memasuki bulan Rajab, beliau membaca doa:

 

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ

 

Artinya: Ya Allah, anugerahkanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah umur kami pada bulan Ramadhan.



Berikut beberapa amalan-amalan ringan yang dapat kita lakukan setiap hari selama bulan Rajab, di antaranya sebagai berikut:


Memperbanyak Sholawat

Memperbanyak membaca sholawat merupakan amalan yang ringan yang dapat kita lakukan selama bulan Rajab. Membaca sholawat pun dapat kita lakukan kapan pun dan di mana saja.

 

Membaca sholawat di bulan Rajab mendapat ganjaran atau balasan yang sangat besar, sebagaimana dalam kitab Durratun Nasihin:

 

   روي عن النبي صلي الله عليه وسلم أنه قال؛ رأيت ليلة المعراج نهرا ماؤه أحلي من العسل و أبرد من الثلج و أطيب من المسك فقلت لجبريل لمن هذا ؟ قال لمن صلي عليك في رجب


Artinya: Diriwayatkan dari Nabi Saw. Rasulullah berkata: Aku melihat pada malam Mi’raj sebuah sungai-sungai yang mana airnya lebih manis daripada madu, lebih dingin daripada salju, dan lebih wangi daripada minyak kasturi. Kemudian saya bertanya kepada Jibril, untuk siapa sungai ini? Untuk orang yang bersholawat kepadamu wahai di bulan Rajab wahai rasul, ucap Jibril



Berpuasa di Bulan Rajab

Puasa sunah ini merupakan amalan sunah yang dapat kita lakukan baik satu dua atau tiga hari kita melaksanakannya. Puasa di bulan ini mempunyai keistimewaan dan pahala atau ganjaran yang tidak kalah dengan amal ibadah lainnya.

 

Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda;

 

قال عليه الصلاة والسلام؛ إن في الجنة نهرا يقال له رجب أشد بياض من اللبن وأحلي من العسل من صام يوما من رجب سقاه الله من ذالك النهر

 

Artinya:

Rasullah Saw. bersabda; sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah sungai yang dinamakan Rajab, sungai tersebut lebih putih daripada susu, lebih manis daripada madu, dan barang siapa yang berpuasa di bulan Rajab, maka Allah akan memberikan sungai tersebut kepadanya.

 

Dan seseorang yang melaksanakan ibadah puasa sunah bulan Rajab, maka ia tidak akan merasakan haus dan lapar pada hari kiamat. Dalam kitab Durratun Nasihin dijelaskan sebagaimana berikut:

 

وعن عائشة رضي الله تعال عنها أنها قالت قال النبي عليه الصلاة والسلام؛ كل الناس جياع يوم القيامة إلا الأنبياء وأهليهم وصائم رجب وشعبان ورمضان فإنهم شباع لهم ولا جوع لهم ولا عطش

 

Artinya:

Diriwayatkan dari Aisyah Ra. Aisyah berkata rasulullah bersabda: setiap manusia pada hari kiamat akan merasakan lapar kecuali para Nabi, keluarga Nabi, orang yang melaksanakan puasa Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Meraka akan merasa kenyang, tidak akan merasakan lapar apalagi haus.

 

Betapa sangat istimewanya balasan Allah terhadap hambanya yang melakukan amalan-amalan di bulan rajab ini, semoga kita dapat menjadi hamba yang istiqomah dalam menjalankan amalan-amalan sunah di bulan rajab. Aamiinn

 


----------------

Kajian Kitab Durratun Nasihin
Pada Naharul Ijtima’ PRNU Desa Gemaharjo
Pemateri : K.H. Maghfur
Wakil Syuriah NU Desa Gemaharjo
Share:

1/24/2025

Keutamaan Hari Jumat yang Perlu Diketahui


Jumat adalah hari yang istimewa dan memiliki sejumlah keutamaan. Hari Jumat disebut juga sebagai sayyidul ayyam atau penghulu hari. Allah memuliakan umat Muhammad saw dengan hari Jumat, yang tidak diberikan kepada umat-umat nabi terdahulu.

Terdapat beberapa dalil yang menunjukan keutamaan hari Jumat. Bahkan ada beberapa ulama yang secara khusus menjadikannya dalam satu bentuk karya, seperti kitab al-Lum’ah Fi Khashaish al-Jumat, karya Syekh Jalaluddin al-Suyuthi. 

Berikut ini di antara dalil yang menyebutkan keutamaan hari Jumat. 

Al-Imam al-Syafi’i dan al-Imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘Ubadah sebuah hadits:

 سَيِّدُ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللهِ يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَهُوَ أَعْظَمُ مِنْ يَوْمِ النَّحَرِ وَيَوْمُ الْفِطْرِ وَفِيْهِ خَمْسُ خِصَالٍ فِيْهِ خَلَقَ اللهُ آدَمَ وَفِيْهِ أُهْبِطَ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَى الْأَرْضِ وَفِيْهِ تُوُفِّيَ وَفِيْهِ سَاعَةٌ لَا يَسْأَلُ الْعَبْدُ فِيْهَا اللهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ مَا لَمْ يَسْأَلْ إِثْمًا أَوْ قَطِيْعَةَ رَحِمٍ وَفِيْهِ تَقُوْمُ السَّاعَةُ وَمَا مِنْ مَلَكٍ مُقّرَّبٍ وَلَا سَمَاءٍ وَلَا أَرْضٍ وَلَا رِيْحٍ وَلَا جَبَلٍ وَلَا حَجَرٍ إِلَّا وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ 

“Rajanya hari di sisi Allah adalah hari Jumat. Ia lebih agung dari pada hari raya kurban dan hari raya Fithri. Di dalam Jumat terdapat lima keutamaan. Pada hari Jumat Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jumat pula Nabi Adam wafat. Di dalam hari Jumat terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali shilaturrahim. Hari kiamat juga terjadi di hari Jumat. Tiada Malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung dan batu kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jumat”. 

Mengapa langit, bumi, batu dan benda-benda mati lainnya mengalami kekhawatiran? Padahal benda-benda tersebut merupakan makhluk yang tidak bernyawa? 

Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam Manahij al-Imdad menjelaskan sebagai berikut:

 أَيْ يَخْلُقُ اللهُ تَعَالَى لَهَا إِدْرَاكًا لِمَا يَقَعُ فِيْ ذَلِكَ الْيَوْمِ فَتَخَافُ...الى ان قال....وَالسِّرُّ فِيْ ذَلِكَ أَنَّ السَّاعَةَ كَمَا تَقَدَّمَ تَقُوْمُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بَيْنَ الصُّبْحِ وَطُلُوْعِ الشَّمْسِ فَمَا مِنْ دَابَّةٍ اِلَّا وَهِيَ مُشْفِقَةٌ مِنْ قِيَامِهَا فِيْ صَبَاحِ هَذَا الْيَوْمِ فَإِذَا أَصْبَحْنَ حَمِدْنَ اللهَ تَعَالَى وَسَلَّمْنَ عَلَى بَعْضِهِنَّ وَقُلْنَ يَوْمٌ صَالِحٌ حَيْثُ لَمْ تَقُمْ فِيْهَا السَّاعَةُ 

“Maksudnya, Allah menciptakan kepada makhuk-makhluk tidak bernyawa ini pengetahuan tentang hal-hal yang terjadi pada hari Jumat tersebut. Rahasia dari kekhawatiran mereka adalah bahwa hari kiamat sebagaimana telah dijelaskan terjadi pada hari Jumat di antara waktu Subuh dan terbitnya matahari. Maka tidaklah binatang-binatang kecuali khawatir akan datangnya hari kiamat pada pagi hari Jumat ini. Saat pagi hari tiba, mereka memuji kepada Allah dan memberi ucapan selamat satu sama lain, mereka mengatakan; ini hari baik. Kiamat tidak terjadi pada pagi hari ini”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.286, cetakan Ponpes Jampes Kediri, tt).

Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash sebuah hadits:

 مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوْتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ 

“Tiada seorang Muslim yang mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur”. 

Syekh Ihsan bin Dakhlan dalam kitab Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.286 cetakan Pondok Pesantrena Jampes Kediri, mengutip keterangan dari Imam al-‘Azizi bahwa hadits tersebut mencapai derajat hadits Hasan. 

Ulama berbeda pendapat mengenai maksud terjaganya orang yang wafat di hari Jumat dari fitnah kubur. Menurut Imam al-Manawi orang tersebut tidak ditanya Malaikat di kuburan. Sedangkan menurut pendapat yang dipegang oleh Imam al-Zayadi, bahwa orang yang mati di hari Jumat tetap ditanya malaikat, namun ia diberi kemudahan dalam menjalaninya. 

Syekh Ihsan bin Dakhlan mengatakan:

 قَالَ الْمَنَاوِيُّ بِأَنْ لَا يُسْأَلَ فِيْ قَبْرِهِ اِنْتَهَى وَهَذَا خِلَافُ ظَاهِرِ الْحَدِيْثِ وَالَّذِيْ اِعْتَمَدَهُ الزَّيَادِيُّ أَنَّ السُّؤَالَ فِي الْقَبْرِ عَامٌّ لِكُلِّ مُكَلَّفٍ اِلَّا شَهِيْدَ الْمَعْرِكَةِ وَمَا وَرَدَ فِيْ جَمَاعَةٍ مِنْ أَنَّهُمْ لَا يُسْئَلُوْنَ مَحْمُوْلٌ عَلَى عَدَمِ الْفِتْنَةِ فِيْ الْقَبْرِ أَيْ يُسْئَلُوْنَ وَلَا يُفْتَنُوْنَ.  

“Maksud dari hadits tersebut, Imam al-Manawai mengatakan dengan sekira ia tidak ditanya malaikat di kuburnya. Pendapat al-Manawi ini menyalahi makna zhahirnya hadits. Pendapat yang dipegang Imam al-Zayadi bahwa pertanyaan malaikat di alam kubur menyeluruh untuk setiap orang mukallaf kecuali syahid yang gugur di medan pertempuran. Keterangan yang menyebutkan bahwa segolongan ulama tidak ditanya malaikat di alam kubur diarahkan pada arti ketiadaan fitnah, maksudnya mereka tetap ditanya malaikat dan tidak mendapatkan fitnah”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.286, cetakan Ponpes Jampes Kediri, tt). 

Menjalankan shalat Jumat merupakan hajinya orang-orang yang tidak mampu. Imam al-Qadla’i dan Ibnu Asakir dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 اَلْجُمُعَةُ حَجُّ الْفُقَرَاءِ 

“Jumat merupakan hajinya orang-orang fakir”. 

Terkait hadits tersebut, Syekh Ihsan bin Dakhlan menjelaskan:

 يَعْنِيْ ذَهَابُ الْعَاجِزِيْنَ عَنِ الْحَجِّ اِلَى الْجُمُعَةِ هُوَ لَهُمْ كَالْحَجِّ فِيْ حُصُوْلِ الثَّوَابِ وَاِنْ تَفَاوَتَ وَفِيْهِ الْحَثُّ عَلَى فِعْلِهَا وَالتَّرْغِيْبُ فِيْهِ.  

“Maksudnya, berangkatnya orang-orang yang tidak mampu berhaji menuju shalat Jumat, seperti berangkat menuju tempat haji dalam hal mendapatkan pahala, meskipun berbeda tingkat pahalanya. Dalam hadits ini memberi dorongan untuk melakukan Jumat”. (Syekh Ihsan bin Dakhlan, Manahij al-Imdad Syarh Irsyad al-‘Ibad, juz.1, hal.282, cetakan Ponpes Jampes Kediri, tt). 

Dalam hadits lain disebutkan:

 مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ وَبَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ وَدَنَا مِنْ الْإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغُ كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا 

“Barang siapa membasuh pakaian dan kepalanya, mandi, bergegas Jumatan, menemui awal khutbah, berjalan dan tidak menaiki kendaraan, dekat dengan Imam, mendengarkan khutbah dan tidak bermain-main, maka setiap langkahnya mendapat pahala berpuasa dan shalat selama satu tahun. (HR. Al-Tirmidzi dan al-Hakim). 

Hadits ini menurut Imam al-Tirmidzi berstatus hadits Hasan dan menurut al-Hakim mencapai derajat hadits Shahih. 

Dalam hadits Imam Muslim disebutkan:

 مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَدَنَا وَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ 

“Barang siapa berwudlu kemudian memperbaiki wudlunya, lantas berangkat Jumat, dekat dengan Imam dan mendengarkan khutbahnya, maka dosanya di antara hari tersebut dan Jumat berikutnya ditambah tiga hari diampuni”. (HR. Muslim). 

Muslim yang membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan dinanugi cahaya di antara dua Jumat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

 مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ  

“Barang siapa membaca surat al-Kahfi pada hari Jumat, maka Allah memberinya sinar cahaya di antara dua Jumat”.  

Hadits tersebut diriwayatkan dan dishahihkan oleh imam al-Hakim. 

Nabi menganjurkan agar memperbanyak membaca shalawat pada hari Jumat. Dalam sebuah hadits ditegaskan:

  أَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وَيَوْمَ الْجُمُعَةِ فَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا  

“Pebanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari dan malam Jumat. Barangsiapa membaca shalawat untuku satu kali, maka Allah membalasnya sepuluh kali”. 

Hadits tersebut diriwayatkan al-Baihaqi dengan beberapa sanad yang baik (hasan). 

Demikianlah penjelasan mengenai keutamaan hari Jumat. Masih banyak lagi dalil-dalil yang menyebutkan keutamaan hari Jumat, jauh lebih banyak dari apa yang telah disebutkan di atas. Semoga bermanfaat. Semoga kita senantiasa mendapat taufiq dari Allah untuk bisa menjalankan amaliyyah di hari Jumat dengan konsisten.


Sumber: NU Online
Share:

"Jika pertemanan seseorang tidak memberimu manfaat maka jangan mengambil untung dengan memusuhinya". (Imam Syafi'i)

"Jangan jadikan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja". (Hadratus Syekh K.H. Muh. Hasyim Asy'ari)

Terjemahkan

Tari Roddat Islami

Kutipan Kitab Kuning

Amalan Khusus

Launching Website

Sekapur Sirih Launchingnya ANWALIN.OR.ID - Website Baru Ansor Watulimo Online

SAMBUTAN KETUA PAC GP. ANSOR WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK   Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Bismillaahirrahmaanirrahiim Alhamdul...