Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

7/13/2025

Pemimpin yang Abai pada Komando: Benih Kekacauan dalam Organisasi


Dalam setiap struktur organisasi, apalagi organisasi sosial keagamaan seperti Gerakan Pemuda Ansor atau Nahdlatul Ulama, garis komando dan ketaatan pada instruksi pimpinan adalah ruh yang menjaga kohesivitas dan keberkahan gerakan. Namun bagaimana jika seorang pemimpin justru mulai abai terhadap instruksi atau undangan dari pimpinan di atasnya, dan memilih menghadiri acara lain yang tidak menjadi kewajiban utama? Ini bukan hanya sekadar kelalaian administratif, tetapi sudah menjadi benih disintegrasi struktural dan moral.

Baca Juga; Menjaga Marwah Organisasi: Urgensi Garis Komando dan Bahaya Loncat Komando dalam Tubuh GP Ansor

1. Pengkhianatan terhadap Amanah

Seorang pemimpin bukan hanya jabatan, tetapi amanah (amanah taklifiyah) yang mengikat secara moral dan spiritual. Ketika ia mengabaikan instruksi dari atasannya, sejatinya ia sedang menyia-nyiakan amanah itu. Rasulullah SAW bersabda:

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan mengabaikan undangan resmi atau instruksi, ia telah menunjukkan ketidakseriusan dalam mempertanggungjawabkan tugasnya di hadapan Allah dan manusia.

2. Merusak Kultur Disiplin Organisasi

Sikap tidak taat terhadap instruksi pimpinan menjadi preseden buruk bagi kader di bawahnya. Jika pemimpin saja berani melanggar garis komando, bagaimana mungkin ia dapat menuntut kedisiplinan dari anak buahnya? Inilah yang disebut dengan "loncat komando", yang secara struktur dapat melemahkan kesolidan organisasi.

Dalam doktrin organisasi militer dan semi-militer (seperti Banser), garis komando adalah mutlak. Tanpa itu, perintah bisa diperdebatkan, disiplin menjadi longgar, dan akhirnya semangat kolektif pun melemah.

3. Memicu Konflik Horizontal dan Fragmentasi

Ketika seorang pemimpin lebih memilih kegiatan di luar daripada memenuhi panggilan internal organisasi, ia menciptakan dualisme loyalitas. Ia sedang menunjukkan bahwa ada hal yang lebih penting daripada kepentingan organisasi. Ini akan menciptakan kecemburuan, perpecahan, bahkan konflik horizontal di antara sesama kader. Ujungnya adalah fragmentasi yang merugikan jangka panjang.

4. Menurunkan Reputasi Organisasi di Hadapan Publik

Dalam konteks publik, ketidakhadiran pemimpin dalam acara resmi bisa ditafsirkan sebagai konflik internal, ketidaksolidan, atau bahkan kegagalan komunikasi struktural. Ini bisa merusak citra organisasi di mata masyarakat, padahal kerja kolektif organisasi tersebut bisa saja sangat positif. Satu tindakan abai bisa merusak capaian bersama.

5. Tidak Meneladani Etika Kepemimpinan Nabi

Rasulullah SAW adalah teladan dalam disiplin dan penghormatan terhadap struktur. Beliau tidak pernah membangkang terhadap perintah Allah, dan senantiasa menghormati keputusan kolektif para sahabat. Dalam organisasi, prinsip ini menjadi dasar etika kepemimpinan.

"Sesungguhnya orang-orang yang melanggar perintah Rasul, maka hendaklah mereka takut ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih."
(QS. An-Nur: 63)

Kesimpulan: Ketaatan adalah Fondasi Kepemimpinan

Kepemimpinan yang baik tidak hanya dilihat dari kemampuan berbicara atau tampil di panggung, tetapi dari ketaatannya kepada struktur, kesetiaannya pada komando, dan konsistensinya menjalankan amanah. Mengabaikan instruksi pimpinan untuk alasan yang tidak prinsipil adalah bentuk kemunduran moral yang bisa menjadi fitnah organisasi.

Karenanya, dibutuhkan introspeksi dari setiap pemimpin: apakah kita masih amanah dalam menjalankan tanggung jawab, atau sedang menjadi penyebab keretakan struktur tanpa sadar?

"السمع والطاعة على المرء المسلم فيما أحب وكره ما لم يُؤمر بمعصية"

 "Mendengar dan taat adalah kewajiban seorang Muslim dalam hal yang disukai maupun tidak, selama tidak diperintah untuk maksiat." (HR. Bukhari dan Muslim)

Referensi:

  • Al-Qur’an, Surah An-Nur ayat 63

  • HR. Bukhari dan Muslim tentang amanah dan ketaatan

  • Khittah Nahdlatul Ulama tentang kepemimpinan struktural

  • AD/ART GP. Ansor & Banser mengenai sistem instruksional


.
Kontributor : Murdiyanto - Ketua PAC GP Ansor Watulimo
Editor : Tim Media Anwalin PAC GP Ansor Watulimo
.
Share:

7/10/2025

Meraih Keberkahan dan Keutamaan Hari Jum’at: Momentum Penyucian Jiwa dan Peningkatan Iman


Hari Jum'at memiliki posisi yang istimewa dalam Islam. Ia bukan sekadar hari biasa, tetapi merupakan hari raya mingguan bagi umat Muslim, penuh dengan keutamaan, keberkahan, dan peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

"Sebaik-baik hari yang pada hari itu matahari terbit adalah hari Jum'at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu pula ia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itu pula ia dikeluarkan darinya."
(HR. Muslim, no. 854)

Hadis ini menegaskan betapa mulianya hari Jum'at dalam perjalanan sejarah manusia. Lebih dari itu, dalam Al-Qur'an Allah SWT memerintahkan kaum Muslimin agar menghadiri shalat Jum'at dan meninggalkan jual beli ketika adzan dikumandangkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."
(QS. Al-Jumu’ah: 9)

Malam Jum'at juga menjadi malam yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, seperti membaca Surah Al-Kahfi, memperbanyak shalawat kepada Nabi ﷺ, dan berdoa. Dalam sebuah hadis disebutkan:

"Sesungguhnya di hari Jum'at terdapat satu waktu di mana apabila seorang Muslim memohon kepada Allah pada waktu itu, pasti Allah akan memberinya apa yang dimintanya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Waktu mustajab ini menjadi pendorong bagi umat Islam untuk tidak menyia-nyiakan Jum’at dengan kelalaian. Ia adalah momen emas untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama.

Dalam masyarakat yang sibuk dan terkadang lalai terhadap akhirat, kehadiran hari Jum’at setiap pekan adalah panggilan kasih sayang Allah agar manusia kembali merenung, memperbarui iman, dan membersihkan jiwa dari dosa.

Memuliakan Jum’at bukan hanya kewajiban ritual, melainkan kesempatan ruhani yang tak ternilai. Mulailah dengan memperindah diri dengan shalat Jum’at, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, serta memohon ampunan. Jadikan setiap Jum'at sebagai awal yang baru untuk perjalanan iman yang lebih baik.


Referensi:

  1. Al-Qur’an Surat Al-Jumu’ah: 9
  2. Hadis Riwayat Muslim, No. 854
  3. Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim (tentang waktu mustajab doa di hari Jum’at)
  4. Imam Nawawi, Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim


Oleh : Murdiyanto - Ketua PAC GP. Ansor Watulimo
.
Share:

7/08/2025

Menjaga Identitas dan Marwah Organisasi: Pentingnya Memakai Seragam dalam Kegiatan Gerakan Pemuda Ansor


Dalam setiap organisasi, identitas menjadi salah satu unsur yang sangat penting untuk menunjukkan eksistensi dan karakter organisasi tersebut di tengah masyarakat. Begitu pula dengan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor), organisasi kepemudaan di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga keutuhan bangsa dan agama. Salah satu simbol identitas tersebut tercermin dari penggunaan seragam dan atribut organisasi dalam setiap kegiatan atau acara resmi.

1. Simbol Identitas dan Kebanggaan

Seragam GP Ansor bukan sekadar pakaian, melainkan simbol identitas dan kebanggaan sebagai bagian dari organisasi besar yang berkomitmen pada Islam Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketika setiap anggota mengenakan seragam, mereka secara tidak langsung menampilkan wajah organisasi yang solid, terorganisir, dan berkomitmen.

Seragam juga menjadi pemersatu berbagai latar belakang anggota, menyatukan visi dan misi di bawah panji yang sama. Hal ini sangat penting dalam menjaga marwah organisasi agar tetap dihormati oleh masyarakat luas.

2. Meningkatkan Disiplin dan Rasa Tanggung Jawab

Dalam berbagai pelatihan, rapat, ataupun aksi sosial, pemakaian seragam mampu membangun mentalitas disiplin dan rasa tanggung jawab. Anggota yang mengenakan seragam akan lebih terdorong untuk bertindak sesuai dengan nilai dan norma organisasi, menjaga etika, serta mencerminkan sikap terpuji di depan umum.

Penggunaan atribut resmi juga membantu menciptakan kesan profesional dan tertib, sekaligus membedakan antara kegiatan organisasi dengan aktivitas non-formal lainnya.

3. Mempermudah Koordinasi dan Identifikasi

Dalam kegiatan yang melibatkan banyak peserta, seperti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), Bakti Sosial, atau Aksi Bela Negara, seragam dan atribut organisasi mempermudah proses koordinasi dan identifikasi anggota di lapangan. Keberadaan seragam memudahkan panitia, masyarakat, maupun aparat keamanan untuk mengenali peserta dari GP Ansor, sehingga meminimalisir potensi kesalahpahaman.

4. Membangun Citra Positif di Masyarakat

Seragam juga berperan dalam membangun citra positif organisasi di mata masyarakat. GP Ansor yang tampil kompak, rapi, dan berseragam akan lebih dihargai serta mampu menarik minat pemuda lain untuk bergabung. Ini sejalan dengan misi kaderisasi organisasi agar regenerasi kepemimpinan tetap terjaga dan berkelanjutan.

5. Sebagai Tanggung Jawab Moral terhadap Organisasi

Memakai seragam saat menghadiri kegiatan formal merupakan bentuk tanggung jawab moral dan penghormatan terhadap organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kader memiliki kesadaran untuk menjaga kehormatan organisasi baik di internal maupun eksternal.

Kesimpulan

Memakai seragam atau atribut organisasi dalam setiap kegiatan Gerakan Pemuda Ansor bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan manifestasi dari loyalitas, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap organisasi. Setiap anggota perlu menyadari bahwa identitas organisasi bukan hanya ditunjukkan melalui tindakan, tetapi juga melalui simbol-simbol visual seperti seragam yang mencerminkan kekompakan, kedisiplinan, dan semangat perjuangan.


Referensi:

  1. Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Gerakan Pemuda Ansor, Pimpinan Pusat GP Ansor.
  2. Hasyim, M. (2019). Membangun Karakter Kader di Era Globalisasi. Surabaya: LKiS Pelangi Aksara.
  3. Website Resmi Gerakan Pemuda Ansor: www.gp-ansor.or.id
  4. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.

Oleh : Tim Media Anwalin

Share:

Antara Keinginan dan Kemampuan: Keseimbangan yang Menentukan Keberhasilan

Dalam setiap organisasi, baik skala kecil maupun besar, pasti akan tiba masanya dihadapkan pada keputusan untuk melaksanakan suatu kegiatan di tengah keterbatasan sumber daya yang ada. Entah karena tekanan waktu, ekspektasi pemimpin, tuntutan administratif, atau sekadar gengsi organisasi, kegiatan yang seharusnya bisa menjadi ajang prestasi justru menjadi ajang kegagalan karena dipaksakan berjalan tanpa persiapan matang.

Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan dalam dunia pemerintahan, pendidikan, sosial, maupun bisnis, sering kali terlihat bahwa kegiatan yang dipaksakan tanpa memperhitungkan kapasitas dan kapabilitas justru menimbulkan dampak negatif yang lebih besar daripada manfaat yang diharapkan.

Terdapat sebuah pepatah lama yang sangat relevan:
“Ridha manusia adalah tujuan yang takkan pernah tercapai, sedangkan ridha Allah adalah tujuan yang tak boleh ditinggalkan.”
Dalam konteks manajemen, pepatah ini dapat dimaknai bahwa kita tidak harus memaksakan sesuatu hanya untuk menyenangkan pihak luar, apalagi jika kondisi internal organisasi jelas-jelas belum siap.

Kehancuran yang Dimulai dari Ketidakjujuran Melihat Realita

Banyak pemimpin dan pengambil keputusan terjebak dalam euforia program kerja dan semangat mewujudkan visi misi tanpa memperhatikan realitas. Ketika sebuah kegiatan dipaksakan dengan sumber daya yang minim—baik anggaran, personel, fasilitas, maupun dukungan teknis—maka besar kemungkinan kegiatan tersebut hanya akan menjadi formalitas belaka.

Kegiatan yang dirancang tanpa kesiapan cenderung menghasilkan hasil yang jauh dari target. Bahkan lebih dari itu, bukan hanya tujuan yang gagal dicapai, tetapi juga menimbulkan kerugian yang kadang tak kasat mata: kelelahan anggota, menurunnya moral tim, kerusakan citra organisasi, bahkan potensi konflik internal. Ini adalah bentuk kehancuran yang perlahan tapi nyata.

Lebih celakanya lagi, dalam beberapa kasus, ada kecenderungan untuk menutupi kegagalan tersebut dengan pencitraan atau laporan manis. Ini menciptakan siklus kebohongan yang pada akhirnya memperburuk budaya organisasi. Seperti dikatakan oleh pakar manajemen Peter Drucker, “Culture eats strategy for breakfast”—sebaik apa pun strategi, jika budaya organisasi rapuh, hasilnya tak akan sesuai harapan.

Sumber Daya: Fondasi Utama Kegiatan yang Berhasil

Setiap kegiatan idealnya ditopang oleh tiga pilar utama: perencanaan yang matang, ketersediaan sumber daya, dan manajemen risiko. Tanpa salah satunya, kegiatan tersebut ibarat bangunan yang didirikan di atas pasir.

Sumber daya bukan hanya soal anggaran, tetapi juga kompetensi SDM, waktu, informasi, dan dukungan moral. Memaksakan kegiatan dengan dalih "yang penting terlaksana" tanpa mempertimbangkan apakah sumber daya mencukupi adalah sikap gegabah yang dapat merusak kepercayaan publik maupun internal.

Sebuah studi dari Project Management Institute (PMI) menunjukkan bahwa 39% proyek gagal mencapai tujuan karena perencanaan dan pengelolaan sumber daya yang buruk. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan sumber daya bukan perkara sepele, melainkan menjadi kunci sukses sebuah kegiatan.

Belajar dari Kegagalan Besar: Kisah Pelajaran

Kita bisa belajar dari tragedi peluncuran pesawat ulang-alik Challenger pada 28 Januari 1986. Tekanan politik dan sosial memaksa NASA untuk tetap melaksanakan peluncuran meskipun para insinyur telah memperingatkan adanya cacat teknis. Akibatnya, tujuh astronot kehilangan nyawa. Ini menjadi salah satu pelajaran paling pahit bahwa memaksakan keputusan dalam kondisi tidak ideal berpotensi menghancurkan bukan hanya rencana, tetapi juga kehidupan.

Meski tidak semua kegiatan yang dipaksakan berujung tragis seperti kasus Challenger, namun dalam skala yang lebih kecil, konsekuensinya tetap merusak dan merugikan. Kegiatan pendidikan yang dipaksakan tanpa metode dan sumber daya bisa menciptakan generasi yang apatis. Kegiatan sosial yang dipaksakan bisa menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga. Kegiatan bisnis yang dipaksakan bisa menghancurkan reputasi dan membawa kerugian finansial.

Solusi: Bijak dalam Mengambil Keputusan

Apa yang seharusnya dilakukan?
Pertama, keberanian untuk mengatakan “tidak” ketika kondisi belum memungkinkan harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Menunda bukan berarti gagal, justru bisa menjadi tanda bahwa organisasi memiliki kedewasaan manajemen.

Kedua, penting untuk selalu melakukan analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) sebelum menetapkan pelaksanaan kegiatan. Ini akan membantu menakar kesiapan dengan lebih rasional.

Ketiga, selalu utamakan komunikasi terbuka dan transparan. Jika ada kekurangan sumber daya, sampaikan dengan jujur kepada seluruh pemangku kepentingan. Sikap terbuka akan jauh lebih terhormat dibandingkan hasil buruk yang kemudian ditutup-tutupi.

Penutup

Pada akhirnya, memaksakan sebuah kegiatan tanpa kesiapan hanya akan memperbesar risiko kegagalan. Membangun budaya organisasi yang berani mengakui keterbatasan dan bersedia menunda hingga benar-benar siap adalah langkah bijak yang mencerminkan kedewasaan manajemen. Jangan sampai ambisi sesaat menghancurkan fondasi yang telah dibangun bertahun-tahun.


Referensi:

  1. Kerzner, H. (2017). Project Management: A Systems Approach to Planning, Scheduling, and Controlling. Wiley.

  2. PMI (Project Management Institute). (2017). A Guide to the Project Management Body of Knowledge (PMBOK® Guide)—Sixth Edition.

  3. Vaughan, D. (1996). The Challenger Launch Decision: Risky Technology, Culture, and Deviance at NASA. University of Chicago Press.

  4. Drucker, P. F. (1994). The Practice of Management. Harper Business.



Kontributor : Murdiyanto - (Ketua PAC GP. Ansor Watulimo)
Editor : Tim Media Anwalin PAC GP. Ansor Watulimo
.
Share:

Konferancab GP Ansor: Momentum Regenerasi, Konsolidasi, dan Penguatan Peran Kader di Era Perubahan


Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Gerakan Pemuda Ansor adalah sebuah momen penting dan strategis dalam perjalanan organisasi kader muda Nahdlatul Ulama (NU) di tingkat kecamatan. Lebih dari sekadar ajang pergantian kepemimpinan, Konferancab adalah manifestasi dari nilai-nilai kaderisasi, regenerasi, dan konsolidasi organisasi yang menjadi ruh perjuangan GP Ansor.

Di tengah dinamika sosial-politik dan perubahan zaman yang begitu cepat, GP Ansor di tingkat akar rumput dihadapkan pada tantangan besar: bagaimana tetap relevan, adaptif, sekaligus konsisten menjaga prinsip Ahlussunnah wal Jama'ah dan keutuhan NKRI. Konferancab menjadi wadah untuk mempertegas komitmen tersebut dengan memilih pemimpin baru yang tidak hanya memiliki kapasitas dan kapabilitas, tetapi juga komitmen ideologis dan moral.

Momentum Konferancab harus dijadikan sebagai ajang refleksi dan evaluasi program kerja organisasi. Apakah kaderisasi berjalan efektif? Apakah kehadiran GP Ansor benar-benar berdampak bagi masyarakat sekitar? Apakah organisasi ini mampu menjawab tantangan zaman, seperti radikalisme, intoleransi, dan keterpurukan moral generasi muda? Pertanyaan-pertanyaan ini layak dijadikan bahan perenungan dalam setiap sidang dan pleno Konferancab.

Selain itu, Konferancab juga menjadi ruang untuk memperkuat jejaring dengan pemerintah, tokoh masyarakat, dan lembaga-lembaga lain. Hal ini penting agar GP Ansor bisa berkontribusi lebih besar dalam pembangunan masyarakat, tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi juga sosial, pendidikan, ekonomi, dan budaya.

Sebagai organisasi yang mewarisi semangat jihad para ulama pendiri bangsa, GP Ansor harus tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga nilai-nilai Islam rahmatan lil alamin. Konferancab bukan hanya tentang siapa yang terpilih, tetapi lebih penting adalah bagaimana estafet perjuangan dan pengabdian tetap terjaga dan terus berlanjut.

Di era digital, GP Ansor juga harus mampu memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk menyebarkan dakwah yang damai, menebarkan semangat toleransi, serta melawan hoaks dan ujaran kebencian yang merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa. Regenerasi yang dihasilkan dari Konferancab harus mampu membaca zaman dan menghadirkan terobosan program yang relevan dan inovatif.

Akhirnya, Konferancab bukan sekadar rutinitas organisatoris, melainkan ruang suci yang mencerminkan wajah sejati GP Ansor: kader muda NU yang tangguh, berilmu, berakhlak, dan siap mengabdi demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.


Referensi:

  1. Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Gerakan Pemuda Ansor (PD-PRT GP Ansor)

  2. Khittah Nahdlatul Ulama 1926

  3. Zuhri, Saifuddin. Berangkat dari Pesantren. Jakarta: Gunung Agung, 1974.

  4. Shihab, Quraish. Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Tematik atas Pelbagai Persoalan Umat. Mizan, 1998.

  5. Hasil Konferancab GP Ansor berbagai daerah (dokumentasi internal)



Kontributor : Murdiyanto (Ketua PAC GP. Ansor Watulimo)
Share:

7/04/2025

Meneladani Keutamaan Bulan Muharram dan Amalan Puasa Asyura


Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang sangat istimewa dalam Islam. Ia menjadi pembuka tahun baru Hijriyah dan termasuk dalam deretan bulan-bulan haram (الأشهر الحرم), yakni bulan-bulan yang dimuliakan Allah Swt. Keistimewaan Muharram tidak hanya terletak pada posisinya dalam kalender Islam, tetapi juga karena banyak keutamaan dan amalan yang dianjurkan di dalamnya, khususnya puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram yang dikenal dengan Puasa Tasu'a dan Asyura.

1. Keutamaan Bulan Muharram

Rasulullah ﷺ menyebut Muharram sebagai bulan Allah, Syahrullah al-Muharram, yang menandakan kemuliaan dan keistimewaannya di sisi Allah. Dalam sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
"أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ"

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Allah, Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.”
(HR. Muslim no. 1163)

Hadis ini menunjukkan bahwa bulan Muharram memiliki kedudukan khusus sebagai waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, khususnya puasa sunnah.

2. Keutamaan Puasa Asyura (10 Muharram) dan Tasu’a (9 Muharram)

Puncak keistimewaan bulan Muharram terletak pada tanggal 10 yang dikenal dengan hari Asyura. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada hari tersebut. Puasa Asyura memiliki keutamaan besar yaitu menghapus dosa-dosa kecil setahun yang lalu. Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ، قَالَ:
"وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ"

“Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun yang lalu.”
(HR. Muslim no. 1162)

Agar tidak menyerupai ibadah kaum Yahudi yang juga berpuasa pada hari Asyura, Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk menambah puasa sehari sebelumnya, yaitu tanggal 9 Muharram (Tasu’a). Hal ini sesuai dengan hadis:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
"لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ"

“Jika aku masih hidup tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu’a).”
(HR. Muslim no. 1134)

3. Hikmah dan Nilai Spiritualitas

Puasa di bulan Muharram, khususnya pada tanggal 9 dan 10, bukan sekadar amalan lahiriah. Ia juga menjadi simbol penguatan tauhid, kesyukuran, dan pengingat akan berbagai peristiwa penting dalam sejarah Islam. Salah satunya adalah kisah Nabi Musa A.S yang diselamatkan Allah dari kejaran Fir’aun pada hari Asyura, yang kemudian Nabi Muhammad ﷺ ikuti dengan berpuasa sebagai bentuk syukur.

Selain itu, Muharram juga menjadi momentum refleksi diri, muhasabah, dan memulai lembaran baru kehidupan dengan memperbanyak amal saleh.

4. Penutup

Memuliakan bulan Muharram dengan amalan ibadah seperti puasa Tasu’a dan Asyura adalah bentuk ketakwaan dan kesyukuran seorang hamba. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang diberi taufik untuk menghidupkan keistimewaan bulan Muharram dengan amal-amal kebaikan.


📚 Daftar Pustaka / Referensi:

  1. Al-Qur’an Al-Karim

  2. Shahih Muslim no. 1162, 1163, 1134

  3. Riyadhus Shalihin, Imam Nawawi

  4. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqalani

  5. Asy-Syaukani, Nailul Authar



Oleh : Murdiyanto (Ketua PAC GP. Ansor Watulimo)
Share:

1/13/2025

BPJS - Antara Gotong Royong dan Rasa “Rugi Kalau Nggak Dipakai”


BPJS Kesehatan sering menjadi topik hangat. Banyak yang merasa rugi kalau sudah bayar iuran tapi tidak pernah menggunakannya. Akibatnya, ada yang berobat hanya untuk keluhan sederhana, seperti demam ringan atau pegal-pegal, padahal cukup istirahat dan beli paracetamol di minimarket juga bisa sembuh.  

Sistem asuransi seperti BPJS sebenarnya bukan untuk memastikan Anda "dapat kembali" dari apa yang Anda bayar. Ini soal gotong royong: uang yang Anda bayarkan digunakan untuk membantu mereka yang kurang beruntung dan membutuhkan biaya besar untuk pengobatan penyakit serius. Prinsipnya sederhana: Anda sehat, Anda membantu yang sakit.  

Ada pemikiran bahwa kalau kita bayar sesuatu, itu harus dipakai biar nggak rugi. Jadi, ada yang ke dokter hanya untuk keluhan kecil, seperti sakit perut setelah makan mi Gacxan pedas level 8. Padahal, masalahnya cuma karena lambung yang kaget kena serangan rasa pedas, bukan hal yang serius. Kalau semua orang dengan masalah seperti ini langsung ke dokter dan menggunakan BPJS, beban sistem akan semakin berat.  

Coba bayangkan tingkat utilisasi BPJS kalau semua penyakit ringan ditanggung. Dokter di PPK 1 atau puskesmas akan kewalahan menangani keluhan-keluhan yang sebenarnya bisa diatasi sendiri di rumah. Sistem ini akan terlalu penuh, sehingga yang benar-benar membutuhkan perawatan bisa jadi tidak mendapatkan layanan optimal.  

Banyak yang membandingkan BPJS dengan sistem asuransi kesehatan di negara maju. Di beberapa negara, pajak yang dibayar masyarakat bisa mencapai 50% dari penghasilan, sebagian besar digunakan untuk kesehatan. Ada juga yang membayar iuran kesehatan di atas $100 per bulan. Namun, meski sudah bayar mahal, mereka tetap harus membayar biaya tambahan atau iur bayar atau copayment untuk kunjungan dokter atau pembelian obat tertentu.  

Sementara itu, di Indonesia, iuran BPJS tergolong sangat rendah, mulai dari Rp35.000 per bulan. Dengan iuran serendah itu, banyak yang berharap semua pengobatan gratis tanpa biaya tambahan. Tapi kenyataannya, sistem asuransi seperti ini tidak berkelanjutan jika utilisasinya terus meningkat tanpa kontrol.  

Salah satu cara mengatasi pemikiran "rugi kalau nggak dipakai" adalah dengan menambahkan biaya tambahan kecil atau copayment. Misalnya, setiap kunjungan ke PPK 1 dikenakan biaya Rp5.000-10.000. Angka ini tidak terlalu besar dibandingkan biaya konsultasi dokter yang bisa mencapai Rp100.000-200.000. Atau biaya tambahan perawatan Rp. 500,000,- angka ini tidak terlalu besar dibandingkan jika anda harus bayar total biaya rawat 10 juta.

Biaya tambahan ini bisa membantu menyaring kunjungan yang tidak perlu. Orang akan berpikir dua kali sebelum berobat hanya karena sakit perut setelah makan pedas. Ini juga mendorong tanggung jawab individu dalam menjaga kesehatan. Kalau tahu lambung sudah bermasalah, ya jangan makan mi pedas level 8, cukup level 1 saja, atau lebih baik hindari pedas.
  
BPJS seharusnya fokus pada kasus-kasus berat yang bisa membuat seseorang bangkrut jika harus membayar sendiri. Misalnya, pemasangan ring jantung, cuci darah, atau transplantasi organ. Biaya untuk tindakan ini sangat mahal, dan tanpa bantuan BPJS, banyak orang tidak akan mampu menanganinya.  

Namun, jika BPJS terus menanggung kasus ringan yang tidak darurat, seperti flu, batuk, atau sakit perut biasa, sistem ini akan semakin terbebani. Anggaran yang seharusnya digunakan untuk menyelamatkan nyawa akan habis untuk hal-hal yang sebenarnya bisa ditangani tanpa dokter.  

Sebagai masyarakat, kita harus memahami bahwa BPJS adalah bentuk gotong royong. Uang yang kita bayarkan digunakan untuk membantu saudara kita yang membutuhkan. Kalau Anda sehat dan tidak pernah menggunakan BPJS, itu sebenarnya hal yang baik. Itu artinya, Anda berkontribusi untuk membantu orang lain tanpa harus menderita sendiri.  

Namun, untuk mengatasi pemanfaatan yang berlebihan, sistem BPJS memang perlu sedikit penyesuaian. Selain iur bayar kecil, edukasi masyarakat tentang pentingnya tanggung jawab pribadi dalam menjaga kesehatan juga sangat penting. BPJS bukanlah pelampung untuk semua masalah kesehatan. Kita harus belajar membedakan mana yang benar-benar membutuhkan perawatan medis, dan mana yang cukup diatasi sendiri.  
  
Jadi, jangan merasa rugi kalau Anda membayar BPJS tapi tidak pernah menggunakannya. Justru itu menunjukkan Anda sehat dan tidak membutuhkan perawatan medis berat. Ingatlah bahwa BPJS adalah bentuk gotong royong untuk membantu mereka yang kurang beruntung.  

Namun, untuk menjaga keberlanjutan sistem ini, perlu ada pembatasan dan pengendalian, misalnya melalui iur bayar kecil untuk kunjungan yang tidak darurat. Dengan cara ini, kita bisa memastikan bahwa BPJS tetap menjadi penyelamat bagi mereka yang benar-benar membutuhkan, tanpa membebani sistem secara berlebihan. Dan tentu saja, kesehatan Anda tetap menjadi tanggung jawab Anda sendiri. Jadi, makan pedas boleh, tapi jangan level 8 kalau tahu lambung Anda sudah pernah bermasalah!
.
-------
Sumber : FB dr. Erta Priadi Wirawijaya
Share:

1/02/2025

Langkah Awal untuk Memulai Kembali; SELAMAT DATANG TAHUN 2025


Tak terasa usia kita semakin bertambah dan umur kita semakin berkurang???
Puji dan syukur KAMI haturkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, nikmat, taufiq dan hidayahNya kita masih diberi kesempatan untuk menapakkan kaki, menghirup udara segar dan menikmati indahnya alam Sang Maha Karya-Nya.
.
Pada awal tahun 2025 ini – Satkoryon Banser PAC GP. Ansor Watulimo mengawali aktifitasnya dengan meng-UGRADE diri melalui kegiatan yang berupa Upgrading Banser dan Denwanser. Selama 2 hari kegiatan tersebut dilaksanakan (31 Desember 2024 s.d. 01 Januari 2025) dan Alhamdulillah meskipun melalui berbagai macam problematika yang ada akhirnya dapat terselesaikan dengan baik dan sukses.


Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kawasan Pantai Damas Desa Karanggandu Kec. Watulimo Kab. Trenggalek yang melibatkan banyak pihak (stake horlder), para pemangku kepentingan mulai dari pihak Perhutani, LMDH Argo Lestari, Pariwisata, Pemerintah Desa Karanggandu, Toga/Tomas Dusun Damas, Pemuda Karang Taruna Desa Karanggandu, Forkopimcam (Camat, Kapolsek, Koramil) Watulimo, Pengurus NU, Banom NU dan tentunya dukungan dari sahabat-sahabat Ansor – Banser se-Kecamatan Watulimo.
.
Kami atas nama Pribadi sekaligus mewakili sahabat-sahabat dari jajaran Satkoryon Banser dan PAC GP. Ansor Watulimo, hanya bisa menghaturkan banyak terima kasih teriring doa “Jazakumullaahu achsanal jaza’ jazaan katsiro” – Semoga Allah SWT membalas segala bantuan para stake holder terkait atas terselenggaranya Upgrading Banser dan Denwanser Satkoryon Watulimo dengan balasan yang lebih baik dan sebanyak-banyaknya. Aamiin


Selanjutnya kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kealfaan dari kami dalam persiapan sampai pelaksanaan kegiatan; yang “mungkin” karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kami dalam me-manage setiap program maupun kegiatan. Kami insya Allah akan selalu siap belajar (mengevaluasi) dan menerima saran/kritik yang bersifat konstruktif demi perbaikan dan kemajuan langkah giat selanjutnya. Atas segala kealfaan kami, tak lupa memohon maaf yang secukupnya kepada berbagai pihak dengan harapan semoga kedepan di tahun 2025 ini semakin lebih baik, maju, sukses dan bisa menambah kemanfaatan untuk semuanya. 
.
Akhir kata, SELAMAT TAHUN BARU 2025, Semoga di tahun 2025 ini KITA semuanya lebih baik, lebih bermanfaat, lebih beruntung dan lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya. Aamiin.
Share:

12/10/2024

Makna Berkhidmah di Nahdlatul Ulama


Sudah sekian lama kita mengenal dan mengikatkan hati kita pada Nahdlatul Ulama (NU), sebagai jam’iyyah terbesar yang ada di negara Indonesia dan bahkan hingga sampai ke mancanegara.

Di sini saya tertarik mengambil tema tentang berkhidmah di NU. Ada yang berkhidmah melalui NU secara struktural ada juga yang berkhidmah secara kultural. Baik secara struktural ataupun kultural NU sudah puluhan tahun kita bisa mempunyai ikatan batin dan perasaan yang kuat dengan NU, ada yang di baiat di NU, Muslimat, GP Ansor, Fatayat NU dan IPNU-IPPNU.

Sering kali kita ucapkan kata ‘khidmah’ khususnya kepada NU. Namun sebenarnya apa itu arti kata khidmah. Berkhidmah dalam NU secara sederhana berarti mengikuti. Mengikuti di sini berarti mengikuti segala kegiatan yang diadakan oleh NU dan mengamalkan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap pengamalan pemahaman keagamaan NU yaitu: tawasuth (moderat), tasamuh (toleransi), tawazun (seimbang), dan amar ma’ruf nahi munkar (mencegah dari perbuatan yang tidak terpuji). Maka dari itu, warga NU seyogyanya harus terus berpegang teguh pada sikap keagamaan yang sudah menjadi ciri khas dari NU.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata khidmah adalah kegiatan, pengabdian, dan pelayanan. Jadi pada dasarnya sikap khidmah pada NU bisa kita tuangkan dari berbagai sisi dan bidang, misalnya bidang keagamaan, bisa melalui pesantren dan madrasah diniyah, bidang ekonomi, bisa juga membuka dan mendirikan kios atau toko halalmart, aswaja toko, dll. Dan pada bidang kepenulisan atau jurnalistik, kita bisa berikan opini tentang pemikiran yang moderat sesuai dengan paham keagamaan yang ada di NU.

Bukan sebatas yel-yel saja, siapa kita ?? NU… Siapa Kita ?? NU.. NKRI Harga Mati. Seakan-akan ucapan itu sudah melekat pada diri warga NU. Akan tetapi lebih jauh daripada itu yel-yel yang sering kita ucapkan itu bukanlah sebuah identitas yang hanya terikrarkan saja. Tapi ada hal yang harus di wujudkan dalam pengamalan dalam tindak dan laku di organisasi atau banom-banomnya.

Sebagai wujud dari pengamalan tersebut, maka kader IPNU-IPPNU yang bersifat keterpelajaran maka harus bisa membuktikan bahwa dalam setiap langkah yang di laluinya mampu mengamalkan budaya ilmiah kreatif melalui diskusi dan dialog ala pelajar NU milenial sesering mungkin dan interatif guna mengasah pemikiran dan wawasan kita tentang keaswajaan.

Serta yang bersifat kepemudaan di NU juga ada Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fatayat NU harus mampu menjadi garda terdepan dalam upaya dan segala bentuk pelemahan terhadap tradisi dan amaliyah NU baik yang datang dari dalam maupun dari luar.

Contohnya, banyak faham dan aliran radikal yang kian merebak di sekitar kita. Selain itu juga harus mampu berfikir kritis atas segala betuk sikap yang telah kita lakukan selama ini dan terus sadar dengan beragam fenomena yang ada dan berkembang di masyarakat.

Setelah semuanya kita lakukan, kita harus memiliki keyakinan terhadap perjuangan para sesepuh dan ulama NU, salah satu pesan yang di sampaikan oleh KH Ridwan Abdullah:

“Jangan takut tidak makan kalau berjuang mengurus NU.
Yakinlah! kalau sampai tidak makan, komplainlah aku jika aku masih hidup. Tapi kalau aku sudah mati maka tagihlah kebatu nisanku.”

Dan juga ada pesan dari KH Hasan Genggong: Barang siapa yang menolong NU, maka dia akan hidup beruntung di dunia dan di akhirat. Siapa yang memusuhi NU dia akan hancur. Inilah beberapa pesan yang di sampaikan ulama NU kepada Nahdliyin agar bisa memberikan keberkahan dan kemaslahatan bersama.

Jadi dengan kita ber-NU bukan hanya sekadar bisa qunut dan tahlilan saja, akan tetapi harus mau juga mengaji kepada para ulama untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kita, karena kegiatan ngaji dengan para ulama sudah sejak dahulu menjadi ciri khas santri NU.

Dan semoga kita semua dapat diakui sebagai santrinya Mbah Hasyim Asy’ari sehingga doa kita bisa terkabul karena lantaran kita mau mengurusi NU. Dan yang terpenting yaitu kita yakinkan pada diri masing-masing untuk selalu mengurus NU dengan ikhlas dan seluruh program yang kita buat di NU selalu mendapatkan ridha dan berkah dari para sesepuh dan muassis NU. Aamiin Wallahu a’lam bisshawab.

“Siapa yang mengurus NU, saya anggap santriku, siapa yang menjadi santriku saya doakan husnul khoatimah beserta keluarganya” (Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari)

Share:

"Jika pertemanan seseorang tidak memberimu manfaat maka jangan mengambil untung dengan memusuhinya". (Imam Syafi'i)

"Jangan jadikan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja". (Hadratus Syekh K.H. Muh. Hasyim Asy'ari)

Terjemahkan

Tari Roddat Islami

Kutipan Kitab Kuning

Amalan Khusus

Launching Website

Sekapur Sirih Launchingnya ANWALIN.OR.ID - Website Baru Ansor Watulimo Online

SAMBUTAN KETUA PAC GP. ANSOR WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK   Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Bismillaahirrahmaanirrahiim Alhamdul...