1/08/2025

Pengorganisasian dalam Perspektif Islam


Pengorganisasian adalah proses yang penting dalam setiap bentuk organisasi, baik itu organisasi bisnis, sosial, maupun keagamaan. Dalam konteks organisasi, pengorganisasian tidak hanya berfokus pada efisiensi dan efektivitas, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai-nilai moral dan etika yang dipegang oleh anggota organisasi. Dalam hal ini, perspektif Islam memberikan panduan yang komprehensif untuk menciptakan struktur dan sistem yang tidak hanya produktif, tetapi juga adil dan bermakna.

Islam sebagai agama yang holistik memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana seharusnya pengorganisasian dilakukan. Prinsip-prinsip Islam, seperti keadilan, amanah, musyawarah, dan tanggung jawab, berfungsi sebagai landasan etika dalam proses pengorganisasian. Dengan menempatkan nilai-nilai tersebut di pusat kegiatan organisasi, diharapkan dapat tercipta lingkungan kerja yang harmonis, saling menghargai, dan penuh tanggung jawab. 

Di era globalisasi dan perubahan yang cepat saat ini, organisasi dihadapkan pada tantangan baru yang memerlukan pendekatan yang lebih adaptif dan responsif. Banyak organisasi yang terjebak dalam praktik yang hanya berorientasi pada keuntungan material tanpa memperhatikan dampak sosial dan moral dari tindakan mereka.  

Oleh karena itu, pengorganisasian dalam perspektif Islam sangat relevan untuk diaplikasikan, karena tidak hanya mengutamakan pencapaian tujuan duniawi, tetapi juga memperhatikan aspek spiritual dan etika. 

George R. Terry dalam bukunya Principles of Management mengemukakan tentang organizing sebagai berikut, yaitu: “Organizing is the determining, grouping and arranging of the various activities needed necessary for the attainment of the objectives, the assigning of the people to these activities, the providing of suitable physical factors of enviroment and the indicating of the relative authority delegated to each respectives activity.” 

“Pengorganisasian adalah proses menentukan, mengelompokan, dan Menyusun berbagai aktivitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan. Hal ini mencakup penempatan pegawai pada aktivitas-aktivitas tersebut, penyediaan sarana kerja yang sesuai, serta penetapan hubungan wewenang yang diberikan kepada masing-masing individu dalam menjalankan tugas-tugas yang diharapkan.” 

Fungsi Pengorganisasian di antara lain meliputi pemberian tugas-tugas yang terpisah pada setiap bawahan, menetapkan jalur wewenang dan komunikasi, serta mengorganisasikan kerja bawahan. Sejalan dengan itu Sataruddin sebagaimana dikutip Ramayulis mengemukakan beberapa syarat dalam pengorganisasian yaitu tanggung jawab, wewenang, pendelegasian, pertanggung jawaban, dan struktur ogranisasi. 

Sementara itu, Nanang Fatah mengemukakan bahwa pengorganisasian terbagi dua, pertama, organisasi diartikan sebagai usaha kelompok fungsional seperti Lembaga Pendidikan, perkumpulan, badan usaha, pemerintah dan sebuah Perusahaan. Kedua, merujuk kepada proses pengorganisasian yaitu bangunan pekerjaan diatur dan dialokasikan diantara para anggota, sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efesien.  

Dalam pengeorganisasian itu terdapat pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab yang disesuaikan dengan bakat dan minat, pengalaman dan kepribadian masing-masing orang yang diperlukan dalam menjalankan tugas tersebut.    

Dengan demikian pengorganisasian itu intinya adalah mempersatukan kekuatan untuk melaksanakan tugas guna mewujudkan tujuan organisasi. Dengan demikian yang diperlukan adalah pembagian tugas dan tanggung jawab, ada kerja sama, kordinasi dan sebagainya.  

Teori Pengorganisasian dalam Perspektif Islam 
Teori-teori tentang pengorganisasian dalam perspektif Islam memiliki dasar yang bersumber dari Al-Qur'an, Hadis, serta praktik kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Prinsip-prinsip pengorganisasian Islam menekankan nilai-nilai etika, tanggung jawab, serta keadilan dalam menjalankan tugas dan wewenang. 

Berikut adalah beberapa teori dan prinsip pengorganisasian dalam perspektif Islam:

1. Khalifah (Kepemimpinan) 
Dalam Islam, manusia dipandang sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi. Tugas manusia adalah mengelola sumber daya dengan adil, bijaksana, dan bertanggung jawab. Konsep ini mengarahkan prinsip pengorganisasian untuk memastikan bahwa setiap orang dalam organisasi menjalankan peran mereka sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan, serta bertindak dengan penuh tanggung jawab di hadapan Allah dan sesama manusia.

   وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ   

Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al Baqarah : 30). 

Ayat diatas menjelaskan bahwa manusia diangkat sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi dengan peran yang terorganisir. Faktor kepemimpinan pada hakikatnya adalah kemampuan menguasai, memengaruhi, menggerakan, serta mendorong segenap sumber daya yang ada dalam sebuah Lembaga guna untuk mencapai tujuan yang sudah di tetapkan dalam sebuah organisasi. Kepemimpinan merupakan faktor yang sangat berperan dalam organisasi; Baik buruk organisasi bergantung pada factor kepemimpinan.  

Disamping itu, seorang pemimpin juga perlu memiliki kemampuan dalam komunikasi sosial, penguasaan terhadap berbagai keterampilan teknis, wawasan emosional, sosial dan budaya Masyarakat yang dipimpinnya. Dengan cara demikian, ia dapat melaksanakan inti dari kepemimpinannya yaitu memberikan pengaruh secara sosial kepada orang lain sehingga orang lain tersebut menjalankan suatu proses sebagaimana yang diinginkan oleh pemimpin.   

2. Musyawarah (Konsultasi dan Pengambilan Keputusan)   
Musyawarah merupakan prinsip penting dalam pengambilan keputusan dalam Islam. Dalam pengorganisasian, keputusan yang melibatkan banyak pihak sebaiknya diambil melalui musyawarah, sehingga berbagai sudut pandang dapat dipertimbangkan dan keputusan yang diambil akan lebih adil serta dapat diterima oleh semua pihak.

   وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ 

Artinya: “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Syura : 38).   

Ayat diatas menyebutkan bahwa suatu organisasi tidak lepas dari dinamika dalam mengambil Keputusan. Dalam mengambil Keputusan tidak lepas dari jalur musyawarah untuk mencapai kemufakatan. 

Adapun Prinsip-prinsip yang harus menjadi landasan dalam bermusyawarah sebagai berikut:   
a). Kesetaraan dalam Pendapat 
b). Keterbukaan dan Kejujuran 
c). Keadilan dan Keseimbangan 
d). Mengutamakan kepentingan Bersama  
e). Menghormati Keputusan yang di hasilkan 
f). Mengambil Hikmah dari Perbedaan Pendapat 
g). Konsensus atau Kesepakatan 
h). Menggunakan Ilmu dan Pertimbangan Rasional 
i). Tanggung Jawab Kolektif 
j). Pentingnya Sabar dan Tidak terburu-buru 

Musyawarah adalah prinsip yang sangat ditekankan dalam Islam, terutama dalam pengambilan keputusan yang melibatkan banyak pihak. Ini merupakan cara untuk mencapai solusi yang bijaksana, adil, dan bermanfaat bagi semua, dengan memperhatikan hak dan pendapat setiap individu. Selain itu, musyawarah juga mencerminkan nilai-nilai keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab kolektif yang menjadi inti ajaran Islam.   

3. Adil dan Amanah (Keadilan dan Kepercayaan) 
Islam menekankan pentingnya keadilan dalam pengelolaan organisasi. Setiap orang dalam organisasi harus diperlakukan secara adil, tanpa memihak, serta menjalankan amanah yang diemban dengan penuh tanggung jawab. Pembagian tugas harus dilakukan berdasarkan kemampuan, tanpa favoritisme atau ketidakadilan.

   إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا 

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An Nisa : 58) 

Ayat diatas menyebutkan pentingnya memberikan amanah kepada orang yang layak dan memutuskan perkara dengan adil. 

Implementasi Prinsip Amanah: 
a). Kejujuran dalam Melaksanakan Tugas
Anggota organisasi yang diberi amanah harus melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan harapan yang diemban kepadanya. Ini berarti menjaga kepercayaan dari pimpinan dan rekan kerja, tanpa menyalahgunakan wewenang atau tanggung jawab. 

b). Pengelolaan Wewenang dengan Tanggung Jawab
Setiap individu dalam organisasi yang diberi otoritas atau posisi kepemimpinan harus menggunakan wewenangnya untuk kepentingan organisasi, bukan untuk keuntungan pribadi. Wewenang yang diberikan adalah sebuah amanah yang harus dijaga dengan hati-hati. 

c). Transparansi dan Akuntabilitas
Amanah juga berarti transparansi dalam melaksanakan tugas dan keterbukaan dalam melaporkan hasil kerja. Setiap tindakan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada atasan, bawahan, maupun seluruh anggota organisasi. Ini juga termasuk menjaga kerahasiaan informasi yang bersifat sensitif atau strategis bagi organisasi. 

d). Menghindari Kecurangan dan Penyalahgunaan   
Seseorang yang memegang amanah tidak boleh melakukan penyalahgunaan posisi, seperti korupsi, manipulasi data, atau menguntungkan diri sendiri dengan cara yang tidak etis. Amanah berarti menjalankan tugas dengan integritas tinggi. 


4. Tanggung Jawab Kolektif dan Individu 
Dalam Islam, setiap individu memiliki tanggung jawab masing-masing yang diatur sesuai dengan kedudukan mereka dalam organisasi, namun tanggung jawab tersebut juga bersifat kolektif. Setiap orang dalam organisasi memiliki peran yang saling mendukung, dan keberhasilan organisasi menjadi tanggung jawab bersama.

   أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ  

Artinya: "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin. Penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan istri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya. Ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya" (HR al-Bukhari).   

5. Hirarki dan Wewenang 
Islam mengakui pentingnya hirarki dalam suatu organisasi, di mana setiap individu memiliki posisi dan tugas tertentu. Namun, Islam juga menekankan bahwa setiap wewenang yang diberikan harus digunakan dengan bijaksana, adil, dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Pengorganisasian yang baik dalam Islam berarti adanya distribusi tugas yang jelas dan hirarki yang transparan. 
Contoh: Nabi Muhammad SAW menunjuk pemimpin atau wakil dalam berbagai kesempatan, seperti ketika mengirim para sahabat untuk memimpin pasukan atau mengatur wilayah. 

6. Transparansi dan Akuntabilitas   
Prinsip transparansi dan akuntabilitas sangat dijunjung dalam Islam. Pemimpin dan individu dalam organisasi bertanggung jawab untuk menjalankan tugas mereka dengan jujur dan terbuka. Setiap tindakan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada Allah maupun kepada orang lain dalam organisasi.

   وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ, الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ, وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ 

Artinya: “Celakalah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthaffifin : 1-3) 

Ayat diatas mengingatkan tentang pentingnya berlaku jujur dan tidak menipu dalam menjalankan tugas. Ketiga ayat ini menekankan pentingnya kejujuran dan keadilan dalam transaksi ekonomi sosial politik ataupun perilaku organisasi lainnya. Praktik curang dalam timbangan dan takaran adalah tindakan yang sangat dikecam dalam Islam, dan pelakunya akan mendapatkan konsekuensi di dunia dan akhirat.  

Surat ini mengingatkan umat Islam untuk selalu berlaku jujur dan adil dalam setiap transaksi maupun perilaku sosial, serta menjaga integritas personal. Selain itu, ayat-ayat ini juga menjadi peringatan bagi masyarakat tentang dampak negatif dari tindakan curang, baik terhadap individu maupun masyarakat secara keseluruhan.  

Secara keseluruhan, teori pengorganisasian dalam perspektif Islam menekankan prinsip-prinsip etika yang kuat, keadilan, tanggung jawab, serta tujuan yang berorientasi pada kebaikan bersama dan keberkahan. Ini menekankan bahwa pengorganisasian tidak hanya soal manajemen duniawi, tetapi juga berkaitan dengan nilai-nilai spiritual.


Sumber : NU Jakarta
Share:

1/07/2025

Sejarah Gerakan Pemuda Ansor (GP. Ansor)


Gerakan Pemuda Ansor
 (disingkat GP Ansor) adalah salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yang bergerak di bidang kepemudaan dan kemasyarakatan. GP Ansor resmi berdiri pada Muktamar NU ke-9 pada tanggal 24 April 1934, bertepatan dengan 10 Muharram 1353 H di Banyuwangi. GP Ansor telah memiliki pengurus wilayah yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.
Gerakan Pemuda Ansor membawahi Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Rijalul Ansor, Lembaga Bantuan Hukum Ansor, Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS), Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar), Badan Siber Ansor (BSA) dan Sako Pandu Ansor.
Sejarah
Sejarah lahirnya GP Ansor tidak terlepas dari sejarah kelahiran NU itu sendiri. Pada tahun 1921 telah muncul ide untuk mendirikan organisasi pemuda secara intensif. Hal itu juga didorong oleh kondisi saat itu, dimana banyak muncul organisasi pemuda bersifat kedaerahan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Sumatra, Jong Minahasa, dll. Terlepas dari itu, muncul perbedaan pendapat antara kaum modernis dan tradisionalis yang disebabkan oleh perbedaan pendapat masalah mazhab dan masalah furu'iyah lainnya.
Pada tahun 1924, KH. A. Wahab Hasbullah membentuk organisasi sendiri bernama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air) yang dipimpin oleh KH. Abdullah Ubaid sebagai Ketua dan KH. Thohir Bakri sebagai Wakil Ketua, serta KH. Abdurrahim selaku sekretaris.
Setelah mulai banyak pemuda yang ingin bergabung Syubbanul Wathan, maka pengurus membuat sesi khusus mengurus mereka yang lebih mengarah kepada kepanduan yang disebut “Ahlul Wathan”.
Kemudian atas inisiatif KH. Abdullah Ubaid, pada tahun 1931 terbentuklah Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PPNU) dan pada 14 Desember 1932, PPNU berubah nama menjadi Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU). Pada tahun 1934 berubah lagi menjadi Ansor Nahdlatul Oelama (ANO). Sampai sini meski ANO sudah diakui sebagai bagian dari NU, namun secara formal belum tercantum dalam struktur dan Banom NU.
Nama "Ansor" merupakan saran KH. A. Wahab Hasbullah yang diambil dari nama kehormatan dari Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan Islam. Dengan demikian, ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah dan teladan terhadap sikap, perilaku, dan semangat perjuangan para sahabat Nabi Muhammmad yang mendapat sebutan tersebut. 
Gerakan ANO (yang kini disebut GP Ansor) harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar Sahabat Ansor, yakni sebagai penolong, pejuang, dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan, dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen awal yang harus dipegang teguh setiap anggota ANO (GP Ansor).
Pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi yang dipimpin oleh Kyai Saleh Lateng atau Kyai Saleh, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934 M, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU dengan pengurus antara lain: KH. Thohir Bakri sebagai Ketua, KH. Abdullah Ubaid sebagai Wakil Ketua, H. Achmad Barawi dan Abdus Salam sebagai Sekretaris.
Dalam perkembangannya secara diam-diam, khususnya ANO Cabang Malang mengembangkan organisasi gerakan kepanduan yang disebut BANOE (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama) yang kini disebut BANSER (Barisan Serbaguna). Dalam Kongres II ANO di Malang tahun 1937, BANOE menunjukkan kebolehan pertama kalinya dalam baris-berbaris dengan mengenakan seragam dengan Komandan Moh. Syamsul Islam yang juga Ketua ANO Cabang Malang. Sedangkan instruktur umum Banoe Malang adalah Mayor TNI Hamid Roesdi. Salah satu keputusan penting Kongres II ANO di Malang tersebut adalah didirikannya BANOE di tiap cabang ANO. Selain itu, menyempurnakan Anggaran Rumah Tangga ANO terutama yang menyangkut soal BANOE.
Pada masa penjajahan Jepang, organisasi-organisasi pemuda diberangus oleh Jepang termasuk ANO. Kemudian tokoh ANO Cabang Surabaya, Moh. Chusaini Tiway mengemukakan ide untuk mengaktifkan kembali ANO dan mendapat respon positif dari KH. Wachid Hasyim (Menteri Agama RIS kala itu), maka pada tanggal 14 Desember 1949 lahir kesepakatan membangun kembali ANO dengan nama baru Gerakan Pemuda Ansor atau disingkat GP Ansor.
GP Ansor hingga saat ini telah berkembang sedemikan rupa menjadi organisasi kemasyarakatan pemuda di Indonesia yang memiliki watak kepemudaan, kerakyatan, keislaman, dan kebangsaan. GP Ansor hingga saat ini telah berkembang memiliki 433 Cabang (Tingkat Kabupaten/Kota) di bawah koordinasi 32 Pengurus Wilayah (Tingkat Provinsi) hingga ke tingkat desa. Ditambah dengan kemampuannya mengelola keanggotaan khusus BANSER (Barisan Ansor Serbaguna) yang memiliki kualitas dan kekuatan tersendiri di tengah masyarakat.

Di sepanjang sejarah perjalanan bangsa, dengan kemampuan dan kekuatan tersebut GP Ansor memiliki peran strategis dan signifikan dalam perkembangan masyarakat Indonesia. GP Ansor mampu mempertahankan eksistensi dirinya, mampu mendorong percepatan mobilitas sosial, politik dan kebudayaan bagi anggotanya, serta mampu menunjukkan kualitas peran maupun kualitas keanggotaannya. GP Ansor tetap eksis dalam setiap episode sejarah perjalan bangsa dan tetap menempati posisi dan peran yang stategis dalam setiap pergantian kepemimpinan nasional.
Daftar Ketua Umum
Adapun daftar Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor dari lahir hingga sekarang adalah :
NoNamaMasa Khidmat
1Thohir Bakri1934-1949
2Hamid Wijaya1949-1954
3Imron Rosyadi1954-1967
4Yahya Ubaid1967-1980
5A. Chalid Mawardi1980-1985
6Slamet Effendy Yusuf1985-1995
7M. Iqbal Assegaf1995-1999
8Saifullah Yusuf2000-2011
9Nusron Wahid2011-2016
10Yaqut Cholil Qoumas2016-2024
11Addin Jauharudin2024-Sekarang
Dari berbagai Sumber
Share:

Resmi Rilis, Unduh Logo Harlah Ke-102 Nahdlatul Ulama (NU)


Nahdlatul Ulama akan resmi berusia 102 tahun pada 16 Januari 2025 mendatang. Dalam rangka memperingatinya, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengangkat tema Bekerja Bersama Umat untuk Indonesia Maslahat. Bersamaan dengan itu, PBNU juga merilis logo resmi Harlah Ke-102 NU.

Wakil Ketua Harlah ke-102 NU Nur Hidayat mengatakan bahwa harlah logo tersebut terdiri dari dua komponen utama, yaitu sorban kiai berwarna hijau dan tali tambang. Sorban kiai berwarna hijau itu menyimbolkan keulamaan, religiusitas, pembawa rahmat dan keselamatan untuk umat. Sementara ikatan pada angka 102 diadopsi dari tali tambang yang menjadi salah satu inti dari logo NU. 

"Dengan logo itu, kita berharap bahwa seluruh jajaran pengurus NU di semua tingkatan memasuki tahun kedua setelah melewati abad pertama ini benar-benar menjadikan khidmah ijtimaiyah (pelayanan kemasyarakatan)," katanya kepada NU Online di Lantai 3 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, pada Senin (6/1/2025). 

Lebih lanjut soal khidmah ijtimaiyah, Nur Hidayat mengenang bahwa ide itu muncul pada Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU pada tahun lalu di Yogyakarta. Ia menegaskan bahwa khidmah ijtimaiyyah ini yang akan menjadi fokus PBNU di tahun kedua. 

"Sorban dan tali tambang yaitu mengikat seluruh elemen di NU, tahun kedua semakin meningkatkan khidmahnya di ruang lingkup dan wilayah khidmah masing-masing," jelas Wakil Sekretaris Jenderal PBNU itu. 

Sebelumnya, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menyampaikan rangkaian peringatan Harlah ke-102 NU di antaranya diisi dengan agenda Kongres Pendidikan dan Kongres Keluarga Maslahat NU. 

"Kegiatannya akan meng-address dua agenda kemasyarakatan utama yang menjadi kiprah NU, menjadi domain dari Nahdlatul Ulama, yang pertama menyangkut pendidikan dan yang kedua menyangkut masyarakat di tingkat akar rumput," ujar Gus Yahya pada pertemuan dengan sejumlah awak media di Aula lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat pada Jumat (3/1/2025).

Adapun rangkaian harlah ke-102 ini akan dimulai dengan kick-off pada Kamis (16/1/2025). Sementara puncaknya akan digelar di Istora Senayan pada Rabu (5/2/2025). 

Logo peringatan Harlah Ke-102 NU dapat diunduh di sini.


Sumber : NU Online

Share:

1/03/2025

Selamat Hari Lahir Ke-39 Pagar Nusa | Sejarah Pagar Nusa


Pagar Nusa atau sering disingkat PN, adalah organisasi pencak silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang berdiri pada 22 Rabi’ul Akhir 1406 H / 3 Januari 1986 M di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur dengan Ketua Umum pertamanya adalah KH. Abdulloh Maksum Jauhari dalam rangka menyatukan dan mewadahi sejumlah perguruan silat NU yang dahulunya beragam dan berdiri sendiri-sendiri. Hingga saat ini Pagar Nusa memiliki nama resmi “Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa”.
 
Pagar Nusa berdiri sebagai badan otonom di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang berbasis gerakan dalam melaksanakan kebijakan NU pada pengembangan seni, budaya, tradisi, olahraga pencak silat, pengobatan alternatif, dan pengabdian masyarakat.
 
Sejarah
Berdirinya gerakan pencak silat Pagar Nusa ini pada umumnya dilatarbelakangi oleh perasaan gelisah yang dirasakan oleh para ulama terutama aktifis pencak silat yang kala itu tidak ada suatu wadah yang menaungi para aktifis pencak silat yang jumlahnya tidak sedikit, para ulama dan aktifis menyayangkan jika aktifis pencak silat di lingkungan NU kala itu tidak ada wadah tersendiri untuk bersatu dalam suatu wadah. Lantas kemudian suatu ketika, pendekar asal Surabaya, Jawa Timur Kiai Suharbillah sowan kepada KH. A. Mustofa Bisri (Gus Mus) untuk meminta pendapat dan fatwa akan hal tersebut. Lalu KH. A. Mustofa Bisri memberi saran kepada KH. Suharbillah untuk mendatangi dan menghadap kepada Gus Maksum (Lirboyo, Kediri).
 
Lalu tepat pada tanggal 27 September 1985, para ulama dan aktifis pencak silat melakukan musyawarah di Pesantren Tebuireng, Jombang dan beragenda untuk mendirikan sebuah organisasi yang berafiliasi kepada Jam’iyah Nahdlatul Ulama dengan tujuan khusus untuk mewadahi dan mengembangkan kemampuan di bidang pencak silat.
 
Satu tahun setelah itu, yakni pada tanggal 3 Januari 1986, para ulama dan aktifis pencak silat di kalangan NU tadi menyelenggarakan pertemuan dan musyawarah di Pondok Pesantren Lirboyo, dan di pertemuan inilah disepakati pembentukan organisasi pencak silat di bawah naungan NU dengan nama “Pagar Nusa”.
 
Kemudian pada tanggal 16 Juli 1986, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang ketika itu diketuai oleh K.H. Ahmad Shidiq sebagai Rais ‘Aam dan K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum-nya, melakukan peresmian terhadap Pencak Silat Pagar Nusa sebagai salah satu badan otonom di bawah pangkuan Jam’iyah Nahdlatul Ulama dan ketua umum Pagar Nusa pertama kali dijabat oleh K.H. A. Maksum Jauhari.
 
Hierarki Organisasi
  • Pimpinan Pusat (PP) di tingkat nasional;
  • Pimpinan Wilayah (PW) di tingkat provinsi;
  • Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) berkedudukan di kepengurusan luar negeri;
  • Pimpinan Cabang (PC) di tingkat kabupaten/kota;
  • Pimpinan Anak Cabang (PAC) di tingkat kecamatan;
  • Pimpinan Rayon (Rayon) berkedudukan di pondok pesantren atau lembaga pendidikan;
  • Pimpinan Ranting (Ranting) di tingkat desa/kelurahan.
 
Daftar Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa
  • K.H. A. MAKSUM JAUHARI ----- 1986-2003
  • Dr. K.H. SUHARBILLAH ----- 2003-2007
  • Drs. KH. FUAD ANWAR, M.Si ----- 2007-2012
  • K.H. AIZZUDIN ABDURRAHMAN ----- 2012-2017
  • MUCHAMAD NABIL HAROEN ----- 2017- sekarang
 
Tujuan Pagar Nusa
Pembinaan, pengembangan, pelestarian, dan pendayagunaan profesi seni, budaya, bela diri pencak silat, dan ketabiban dengan segala aspeknya, baik aspek seni, budaya, bela diri pencak silat, dan ketabiban sebagai cabang olahraga maupun seni budaya dan aspek ketabiban (mental spiritual) dalam rangka mewujudkan masyarakat Indonesia yang berbudi luhur dan Pancasilais.
 
Berlakunya ajaran Islam menurut paham Ahlusunnah wal Jamaah dengan menganut salah satu Mazhab Empat di tengah-tengah kehidupan masyarakat dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
 
Panca Prasetya Pagar Nusa
Kami pesilat Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa, sanggup:
  1. Bertakwa kepada Allah SWT.
  2. Berbakti kepada Nusa dan Bangsa
  3. Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan
  4. Mempertahankan kebenaran dan mencegah kemungkaran
  5. Mempertahankan paham Ahlusunnah wal Jamaah.
 
Aliran Bela Diri
Pagar Nusa di ketahui mewadahi beberapa aliran-aliran perguruan beladiri yang dahulunya berdiri sendiri, sehingga juga dikenal dengan sebutan “Pagar Nusa IPSI-Nya NU.” Karena beragam perguruan beladiri berafiliasi dibawah naungan Pagar Nusa. Ada puluhan bahkan ratusan perguruan maupun padepokan Pencak Silat yang menjadi bagian dari Pagar Nusa, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut. 
  • GASMI (Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia)
  • NH Perkasya
  • Peguron Sapu Jagad
  • Batara Perkasa
  • Cimande
  • Ababil Surakarta
  • Ababil Jember
  • PSHC (Pencak Silat Harimau Cimande)
  • DOB PENAGA (Dakwah Olahraga Beladiri Pecinta Negara dan Agama)
  • SPKM (Silat Pencak Kordho Manyuro)
  • AT (Al-Akhlaqu At-Thohiroh) Tulungagung
  • PHPN (Perisai Hati Pagar Nusa)
  • Sunan Giri
  • PMP Bintang Sembilan
  • Macan Ireng
  • Macan Putih
  • Naga Putih
  • Padepokan Nur Langit
  • GBR (Garuda Bambu Runcing)
  • SDM (Satria Daya Manunggal)
  • Tegal Istighfar/JPC
  • Harimau Kumbang
  • IPS Maruyung
  • ASMA Purwokerto
  • PPS Kuntu Mancilan
  • CEPEDI (Cepat Pembelaan Diri)
  • LBI Harimau Putih
  • Satria Agung
  • GATEDA Tulungagung
  • Carangkuning
  • PSKH Blitar (Pentjak Suci Kumpulan Hati) “Trah Setia Hati”
  • PORSIGAL PN
  • Kuntau Kalimantan
  • Naga Hijau
  • Parikesit
  • SAPERTI (Satria Perkasa Sejati)
  • Hokashito Garuda Putih
  • Macan Kembar
  • Joko Tingkir
  • Asmaul Husna Pagar Nusa
  • Silamba Wiqri
  • Padepokan Langit Tujuh
  • PERSIS
  • PPS Putra Siliwangi
  • Sapu Jagad
  • Lintang Songo
  • Nurul Jadid
  • Pagar Nusa Cikalong
  • Pagar Nusa Cikaret
  • Shaolinshi
  • Sehati Muslim
  • Silat Betawi
  • Kucing Hitam
  • Jiwa Suci
  • Asta Dahana
  • Pagar Nusa AL Ghozaliyah
  • Sendeng Semperen 7
  • …Dst.
 
-----
Sumber : PAGAR NUSA
Share:

1/02/2025

Langkah Awal untuk Memulai Kembali; SELAMAT DATANG TAHUN 2025


Tak terasa usia kita semakin bertambah dan umur kita semakin berkurang???
Puji dan syukur KAMI haturkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, nikmat, taufiq dan hidayahNya kita masih diberi kesempatan untuk menapakkan kaki, menghirup udara segar dan menikmati indahnya alam Sang Maha Karya-Nya.
.
Pada awal tahun 2025 ini – Satkoryon Banser PAC GP. Ansor Watulimo mengawali aktifitasnya dengan meng-UGRADE diri melalui kegiatan yang berupa Upgrading Banser dan Denwanser. Selama 2 hari kegiatan tersebut dilaksanakan (31 Desember 2024 s.d. 01 Januari 2025) dan Alhamdulillah meskipun melalui berbagai macam problematika yang ada akhirnya dapat terselesaikan dengan baik dan sukses.


Kegiatan tersebut dilaksanakan di Kawasan Pantai Damas Desa Karanggandu Kec. Watulimo Kab. Trenggalek yang melibatkan banyak pihak (stake horlder), para pemangku kepentingan mulai dari pihak Perhutani, LMDH Argo Lestari, Pariwisata, Pemerintah Desa Karanggandu, Toga/Tomas Dusun Damas, Pemuda Karang Taruna Desa Karanggandu, Forkopimcam (Camat, Kapolsek, Koramil) Watulimo, Pengurus NU, Banom NU dan tentunya dukungan dari sahabat-sahabat Ansor – Banser se-Kecamatan Watulimo.
.
Kami atas nama Pribadi sekaligus mewakili sahabat-sahabat dari jajaran Satkoryon Banser dan PAC GP. Ansor Watulimo, hanya bisa menghaturkan banyak terima kasih teriring doa “Jazakumullaahu achsanal jaza’ jazaan katsiro” – Semoga Allah SWT membalas segala bantuan para stake holder terkait atas terselenggaranya Upgrading Banser dan Denwanser Satkoryon Watulimo dengan balasan yang lebih baik dan sebanyak-banyaknya. Aamiin


Selanjutnya kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kealfaan dari kami dalam persiapan sampai pelaksanaan kegiatan; yang “mungkin” karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan kami dalam me-manage setiap program maupun kegiatan. Kami insya Allah akan selalu siap belajar (mengevaluasi) dan menerima saran/kritik yang bersifat konstruktif demi perbaikan dan kemajuan langkah giat selanjutnya. Atas segala kealfaan kami, tak lupa memohon maaf yang secukupnya kepada berbagai pihak dengan harapan semoga kedepan di tahun 2025 ini semakin lebih baik, maju, sukses dan bisa menambah kemanfaatan untuk semuanya. 
.
Akhir kata, SELAMAT TAHUN BARU 2025, Semoga di tahun 2025 ini KITA semuanya lebih baik, lebih bermanfaat, lebih beruntung dan lebih bahagia daripada tahun-tahun sebelumnya. Aamiin.
Share:

1/01/2025

Upgrading Banser : Peningkatan Kapasitas dan Profesionalisme Banser Satkoryon Watulimo

Damas Beach (31/12) - Satkoryon Banser PAC GP. Ansor Watulimo menyelenggarakan Latihan Peningkatan Kapasitas (Upgrading) Banser pada hari Selasa-Rabu, 31 Desember 2024 s.d. 01 Januari 2025. Acara yang berlangsung di Pantai DAMAS Karanggandu ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan kapasitas anggota Banser di wilayah Satkoryon Watulimo. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam memperkuat barisan Gerakan Pemuda Ansor dan Banser di Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.

Kegiatan upgrading ini dimulai pukul 10.00 WIB (Selasa, 31 Desember 2024) yang diikuti oleh peserta dari berbagai Ranting/Desa di wilayah Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Watulimo dan para Alumni Diklatsar Watulimo yang berasal dari luar Kecamatan Watulimo. Peserta yang diikutkan Upgrading ini merupakan Alumni Diklatsar Banser dan Denwanser angkatan tahun 2018 sampai 2024 yang berjumlah 302 personil.

Ketua Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Watulimo, Murdiyanto, menugaskan Kasatkoryon Banser Watulimo, Murjianto sebagai Ketua Panitia Pelaksana Upgrading dengan dibantu oleh para Kasatkorkel sejumlah 12 Ranting se-Kecamatan Watulimo. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan kompetensi dan keterampilan anggota Banser sehingga mereka dapat lebih efektif dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di masyarakat.

Program upgrading ini dirancang untuk memberikan pelatihan yang komprehensif kepada para anggota Banser. Pelatihan ini mencakup berbagai aspek, mulai dari keterampilan teknis, pengetahuan organisasi, hingga kemampuan dalam menghadapi berbagai situasi darurat. Para peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai nilai-nilai ke-Ansor-an dan semangat perjuangan yang harus selalu ditanamkan dalam setiap tindakan mereka.

Murdiyanto menyampaikan kepada para peserta (anggota) yang mengikuti kegiatan upgrading bahwa kegiatan upgrading ini adalah penting, sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan ketahanan organisasi.
 
“Banser adalah garda terdepan dalam menjaga keamanan dan ketertiban di masyarakat. Oleh karena itu, kita harus selalu siap dan mampu menghadapi berbagai tantangan. Pelatihan ini adalah salah satu cara untuk memastikan bahwa setiap anggota Banser memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai,” ujar Murdiyanto.
 
Banser memiliki peran penting dalam menjaga ketertiban dan keamanan di masyarakat. Selain itu, Banser juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan serta siap siaga dalam menghadapi bencana alam. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas anggota Banser melalui kegiatan upgrading ini sangat penting untuk memastikan bahwa mereka dapat menjalankan peran tersebut dengan baik.


Dengan adanya kegiatan upgrading ini, diharapkan anggota Banser Satkoryon Watulimo dapat lebih siap dan mampu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Murjianto, sebagai Kasatkoryon Banser Watulimo, menyampaikan harapannya agar pelatihan ini dapat memberikan manfaat yang besar bagi seluruh peserta. “Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ini, para anggota Banser dapat lebih percaya diri dan kompeten dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Kami juga berharap, semangat kebersamaan dan solidaritas di antara anggota Banser semakin kuat,” katanya.
Share:

"Jika pertemanan seseorang tidak memberimu manfaat maka jangan mengambil untung dengan memusuhinya". (Imam Syafi'i)

"Jangan jadikan pendapat sebagai sebab perpecahan dan permusuhan. Karena yang demikian itu merupakan kejahatan besar yang bisa meruntuhkan bangunan masyarakat, dan menutup pintu kebaikan di penjuru mana saja". (Hadratus Syekh K.H. Muh. Hasyim Asy'ari)

Terjemahkan

Tari Roddat Islami

Kutipan Kitab Kuning

Amalan Khusus

Launching Website

Sekapur Sirih Launchingnya ANWALIN.OR.ID - Website Baru Ansor Watulimo Online

SAMBUTAN KETUA PAC GP. ANSOR WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK   Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh Bismillaahirrahmaanirrahiim Alhamdul...